![]() |
| Sekedar ilustrasi: Sebuah kelas lembaga pendidikan di kepulauan |
Oleh Lilik Soebari
Sebuah refleksi tentang perjalanan pendidikan di daerah kepulauan yang lama dipandang sebelah mata dibanding dunia perantauan dan perdagangan. Artikel ini mengulas bagaimana masyarakat dahulu lebih memilih mengadu nasib di lautan dan kota besar daripada menempuh pendidikan tinggi, hingga akhirnya perubahan zaman perlahan membuka kesadaran baru bahwa pendidikan adalah jalan penting untuk membangun masa depan dan martabat daerah sendiri.
*****
Di daerahku, pendidikan pernah menjadi sesuatu yang terasa jauh dari kehidupan masyarakat. Sekolah tidak dipandang sebagai kebutuhan utama, melainkan sekadar pelengkap hidup. Bagi sebagian besar orang tua zaman dahulu, keberhasilan seseorang lebih banyak diukur dari kemampuan mencari uang daripada kemampuan menempuh pendidikan tinggi. Mereka percaya bahwa selama seseorang mampu bekerja keras dan berani menghadapi kerasnya hidup, maka masa depannya akan tetap terjamin meskipun tanpa ijazah atau gelar pendidikan.
Cara pandang itu tidak lahir begitu saja. Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat kepulauan memang membentuk pola pikir yang berbeda. Banyak laki-laki dewasa menggantungkan hidup pada pelayaran dan perdagangan antarpulau. Dengan keberanian dan tenaga, mereka mengarungi lautan luas menggunakan kapal sederhana, menghadapi badai dan ombak tanpa bekal pendidikan formal yang memadai. Pengetahuan mereka diperoleh secara otodidak, diwariskan dari generasi sebelumnya melalui pengalaman hidup.
Pada masa itu, pekerjaan di laut dianggap lebih menjanjikan dibanding duduk bertahun-tahun di bangku sekolah. Bahkan sebagian masyarakat beranggapan bahwa pendidikan hanya akan menghabiskan waktu dan biaya tanpa memberi jaminan kehidupan yang lebih baik. Mereka melihat banyak orang berpendidikan tinggi justru hidup biasa-biasa saja, sementara para pelaut dan pedagang mampu membangun rumah, membeli tanah, dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Selain pelayaran, sebagian masyarakat juga pernah menggantungkan hidup pada aktivitas penebangan kayu secara ilegal. Dunia illegal logging kala itu dianggap sangat menguntungkan. Banyak orang tergiur karena hasilnya cepat dan besar. Dalam pandangan mereka, bekerja keras di hutan dan laut jauh lebih nyata dibanding mengejar ijazah yang belum tentu menghasilkan pekerjaan.
Namun keadaan itu tidak berlangsung selamanya. Ketika pemerintah mulai melakukan penertiban besar-besaran terhadap praktik illegal logging, kehidupan masyarakat perlahan berubah. Banyak kapal dihentikan, jalur perdagangan kayu dibatasi, dan para pelaku diberi sanksi tegas. Situasi ini memaksa masyarakat mencari jalan hidup baru.
Dari sinilah gelombang perantauan semakin besar. Banyak warga mulai beralih profesi menjadi pedagang di kota-kota besar, terutama Jakarta. Dengan modal keberanian dan jaringan sosial antarsesama warga daerah, mereka membuka warung sembako dan toko kelontong. Dunia perdagangan menjadi pilihan baru yang dianggap lebih aman dan menjanjikan.
Keberhasilan para perantau semakin menguatkan anggapan bahwa pendidikan bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Banyak anak muda lebih tertarik merantau setelah lulus sekolah dasar atau sekolah menengah pertama daripada melanjutkan pendidikan. Mereka melihat langsung bagaimana kerabat atau tetangga yang hanya lulusan sekolah biasa mampu memperoleh penghasilan besar di rantau.
Di daerahku, solidaritas sosial memang sangat kuat. Seseorang yang baru datang ke Jakarta sering kali dibantu oleh kerabat atau teman sekampung. Mereka diajari menjaga toko, berdagang, hingga akhirnya mampu membuka usaha sendiri. Modal utama mereka bukan ijazah, melainkan kepercayaan, kejujuran, dan kerja keras.
Keadaan inilah yang kemudian membentuk pola pikir masyarakat selama bertahun-tahun. Banyak orang tua merasa cukup jika anak-anak mereka bisa membaca, menulis, dan memahami dasar-dasar agama. Ada ungkapan yang sangat populer pada masa itu: yang penting anak sudah bisa membedakan mana yang hak dan mana yang batil. Setelah itu, mereka dianggap siap menghadapi kehidupan.
Namun zaman terus berubah. Perkembangan dunia modern perlahan menunjukkan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat penting. Persaingan kerja tidak lagi hanya mengandalkan tenaga dan pengalaman, tetapi juga membutuhkan kemampuan berpikir, pengetahuan, dan legalitas pendidikan.
Kesadaran itu mulai tumbuh ketika masyarakat melihat perubahan nyata di sekitar mereka. Anak-anak muda yang berhasil menyelesaikan pendidikan mulai mengisi berbagai lini kehidupan masyarakat. Ada yang menjadi guru, pegawai pemerintahan, tenaga kesehatan, hingga pelaku usaha modern. Mereka membuktikan bahwa pendidikan mampu membuka peluang yang lebih luas.
Selain itu, perkembangan lembaga pendidikan di daerah juga membawa perubahan besar. Dahulu, sekolah di daerah kami hanya sebatas sekolah dasar dan madrasah. Kini mulai berdiri sekolah menengah pertama, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, hingga sekolah menengah kejuruan. Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan itu menjadi tanda bahwa masyarakat perlahan mulai memberi perhatian serius terhadap dunia pendidikan.
Yang lebih membanggakan, banyak tenaga pendidik kini berasal dari daerah sendiri. Jika dahulu sekolah-sekolah lebih banyak diisi oleh guru dari luar daerah, sekarang anak-anak muda setempat mulai kembali dan mengabdi di kampung halaman mereka. Kehadiran mereka menjadi inspirasi baru bagi masyarakat bahwa pendidikan bukan lagi sesuatu yang asing.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Sampai hari ini, masih banyak masyarakat yang memandang kesuksesan hanya dari sisi ekonomi. Sebagian orang masih bertanya dengan nada meremehkan tentang gaji seorang guru, terutama guru honorer atau sukarelawan yang bertahun-tahun mengabdi dengan penghasilan minim.
Pandangan seperti itu sering kali membuat para pendidik merasa miris. Sebab realitanya, banyak guru harus bersabar dalam waktu lama demi mendapatkan pengakuan dan kesejahteraan yang layak. Di sisi lain, para perantau yang sukses berdagang di kota besar tampak lebih cepat menikmati hasil kerja mereka.
Akibatnya, sebagian generasi muda menjadi ragu terhadap pentingnya pendidikan tinggi. Mereka melihat kenyataan bahwa lulusan SMA yang berdagang di Jakarta bisa memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah per bulan, sementara seorang sarjana belum tentu langsung mendapatkan pekerjaan tetap.
Fenomena ini menjadi dilema tersendiri di daerahku. Pendidikan sering kali dipertanyakan manfaat praktisnya, terutama ketika dibandingkan dengan dunia bisnis dan perdagangan yang hasilnya lebih cepat terlihat. Namun sesungguhnya, pendidikan dan bisnis tidak seharusnya dipertentangkan.
Dunia usaha modern justru membutuhkan pengetahuan, strategi, dan kemampuan beradaptasi. Bisnis tidak lagi hanya mengandalkan modal uang dan keberanian, tetapi juga kemampuan membaca peluang, memahami teknologi, membangun relasi, dan mengelola usaha secara profesional. Dalam kondisi seperti inilah pendidikan menjadi sangat penting.
Hari ini, perubahan besar mulai terasa. Banyak orang tua yang dahulu menganggap sekolah tidak terlalu penting kini justru mendorong anak-anak mereka untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Mereka mulai sadar bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencari pekerjaan, tetapi juga tentang membangun wawasan dan martabat hidup.
Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman panjang masyarakat sendiri. Mereka melihat bahwa orang yang memiliki pendidikan lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bahkan dalam dunia bisnis sekalipun, pendidikan membantu seseorang berpikir lebih terbuka dan terarah.
Di era digital sekarang, peluang sukses memang bisa datang dari mana saja. Seseorang tidak harus memiliki gelar tinggi untuk berhasil. Banyak orang sukses lahir dari kerja keras, kreativitas, kejujuran, dan ketekunan. Namun pendidikan tetap menjadi fondasi penting agar seseorang mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global.
Aku bersyukur karena masyarakat di daerahku perlahan mulai memahami hal itu. Pendidikan kini tidak lagi dipandang sebagai beban yang hanya bisa dinikmati orang kaya. Banyak anak dari keluarga sederhana mulai berani bermimpi melanjutkan sekolah dan kuliah. Mereka percaya bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Perubahan cara pandang ini adalah harapan besar bagi daerahku. Sebab kemajuan suatu wilayah bukan hanya diukur dari banyaknya orang yang sukses merantau atau kaya secara materi, tetapi juga dari kualitas pendidikan masyarakatnya. Pendidikan adalah jalan panjang yang mungkin tidak selalu memberikan hasil instan, tetapi mampu melahirkan generasi yang lebih bijak, mandiri, dan bermartabat.
Di tengah kuatnya budaya merantau dan berdagang, pendidikan tetap harus menjadi cahaya yang menuntun arah masa depan. Karena sejatinya, keberhasilan bukan hanya tentang seberapa banyak harta yang dimiliki, melainkan juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama dan daerah tempat kita berasal.


