google-site-verification: googlebb54872d8e06eced.html google-site-verification=H3iRtfL0rROev8oh2uWaLRsUpzMPk5S1UKOg7l0RYks

Makna Ungkapan Bhuppa’ Bhâbbhu’ Ghuru Rato

Moh. Hafid Effendy

Semua orang Madura pasti tahu tentang adanya ungkapan bhuppa’ bhâbhu’ ghuru rato. Tetapi apakah semua orang Madura paham akan makna yang terkandung di dalamnya? Saya yakin, jawabannya tidak 100%. Menurut pengamatan saya selama ini, barangkali yang mereka pahami tentang makna ungkapan itu adalah kepatuhan dan rasa hormat orang Madura secara hierarhikal pada figur-figur utama. Orang Madura pertama-tama harus patuh dan taat pada kedua orang tuanya, kemudian pada guru (ulama), dan terakhir pada rato (pemimpin formal atau biasa disebut birokrasi). Artinya, dalam kehidupan sosial budaya orang Madura terdapat standard referensi kepatuhan terhadap figur-figur utama secara hierarhikal yang sudah seharusnya dilaksanakan. Sebagai aturan normatif yang mengikat setiap orang Madura maka pelanggaran atau paling tidak – melalaikan aturan itu – akan mendapatkan sanksi sosial sekaligus kultural. Tentu saja, pemaknaan sebatas itu tidak sepenuhnya salah. Oleh karenanya, perlu adanya perenungan kembali yang lebih mendalam. Tulisan ini mencoba mengungkapkan hasil renungan saya tentang hal itu.

Jika makna ungkapan tadi hanya sebatas kepatuhan orang Madura dan menghormati pada figur-figur tertentu secara hierarhikal maka implikasi praksisnya menuntut orang Madura harus patuh dan menghormati. Tidak ada pilihan lain. Tidak ada kesempatan dan ruang sekecil apapun agar orang Madura dipatuhi. Jika begitu, artinya sepanjang hidupnya orang Madura harus patuh. Patuh pada siapa? Kepatuhan pada kedua orang tua kandung memang sudah jelas dan tegas. Tetapi untuk patuh pada figur yang kedua apalagi yang ketiga harus ada jawaban yang juga jelas dan tegas. Siapa mereka? Apakah figur guru itu harus orang Madura atau dari etnis lain? Begitu pun tentang kepatuhan pada figur rato. Siapakah dia? Orang Madurakah? Atau orang dari etnik lain? Bagaimana implementasi sosiokulturalnya bagi kehidupan orang Madura? Itulah pertanyaan-pertanyaan penting yang harus dijawab secara jelas dan tegas.

Kepatuhan pada kedua orangtua sudah sangat jelas dan tegas bahkan tidak dapat ditawar-tawar, apalagi digugatgugat. Durhakalah jika seorang anak sama sekali tidak patuh pada kedua orangtua kandungnya. Bahkan saya yakin, di masyarakat dan kebudayaan manapun, kepatuhan seorang anak pada kedua orangtua kandungnya adalah mutlak. Mungkin yang berbeda hanya dalam hal cara bagaimana dan dalam bentuk apa seorang anak memanifestasikan kepatuhannya selama menjalani jalur kehidupannya di dunia yang fana ini. Kemutlakan ini sama sekali tidak terkendala atau dalam arti ditopang sepenuhnya oleh aspek genealogis. Artinya, jika pada saat ini seorang anak patuh pada kedua orangtua kandungnya maka ada saatnya pula anak itu harus menjadi figur yang harus dipatuhi anak kandungnya ketika yang bersangkutan telah menikah dan mempunyai anak pula kelak. Jadi ada semacam siklus yang berkesinambungan.

Bagaimana dengan kepatuhan orang Madura pada figur guru? Oleh karena peran dan fungsi guru lebih pada tataran moralitas dan masalah-malalah ukhrowi (morality and sacred world) maka kepatuhan orang Madura sebagai penganut agama Islam yang taat tentu saja tidak bisa dibantah lagi. Namun, apakah ada siklus yang berlaku sama seperti kepatuhan pada figur kedua orangtua? Tentu saja tidak. Sebab, tidak semua orang Madura memiliki kesempatan yang sama untuk dapat menjadi figur guru. Meskipun banyak anggapan bahwa figur guru dapat diraih oleh seseorang karena faktor genealogis (keturunan). Namun demikian, pada kenyatannya tidak semua keturanan (anak kandung) dari figur guru akhirnya mengikuti jejak orang tua kandungnya. Ini artinya, pada tataran ini makna kultural dari ungkapan bhuppa’ bhabbhu’ ghuru rato masih belum memberi ruang dan kesempatan lebih luas pada orang Madura untuk mengubah statusnya sebagai orang yang harus selalu patuh dan menghormati!

Bagaimana halnya dengan figur rato? Siapa pun dapat menjadi figur ini entah itu berasal dari etnik Madura sendiri maupun dari etnik lain. Sebab figur rato adalah suatu achievement status yang persyaratannya bukan faktor genealogis melainkan semata-mata karena faktor achievement (preatasi). Bila demikian, siapa pun yang dapat dan mampu meraih prestasi itu berhak pula menduduki posisi sebagai figur rato. Namun demikian, dalam realitas praksisnya tidak semua orang Madura dapat mencapai presatasi ini. Oleh karena itu, figur rato pun kemudian menjadi barang langka. Dalam konteks ini dan dalam bahasa yang lebih lugas, mayoritas orang Madura sepanjang hidupnya masih tetap harus berkutat pada posisi “subordinasi”. Harus patuh, patuh, dan sekali lagi, patuh!

Dari paparan di atas, menjadi jelas bahwa penting bagi semua orang Madura untuk tidak secara mentah-mentah mengartikan makna ungkapan bhuppa’ bhâbbhu’ ghuru rato sebagai hierarhi kepatuhan pada figur-figur tertentu sebagai lazimnya selama ini dipahami oleh hampir semua orang. Sebab jika demikian, makna ungkapan buppa’ babu’ guru rato justru hanya akan menjerumuskan orang Madura untuk selalu berada pada posisi terhegemoni yang harus selalu patuh, patuh, dan sekali lagi, patuh sepanjang hidupnya.

Pertanyaannya kemudian, kapankah orang Madura dapat mengubah posisinya menjadi figur yang harus dipatuhi? Hanya dalam konteks sebagai figur bhuppa’ bhâbbhu’ orang Madura ada saatnya menjadi figur yang harus dipatuhi dan menghormati setelah mereka menikah dan menjadi orang tua bagi anak-anaknya.

Namun, harus ingat bahwa dalam kebudayaan Madura terdapat ungkapan mon kerras, pa-akerrès. Artinya jika orang Madura telah memiliki kekuasaan dan menjadi figur rato (karena telah mencapai prestasi tertentu) hendaknya harus tetap berwibawa. Caranya janganlah bersikap dan berperilaku arogan (congkak), semena-mena, otoriter, tidak menghargai bawahan, dan mau menang sendiri hanya karena mentang-mentang dirinya telah menjadi figur yang harus dipatuhi sehingga menjadi lupa daratan dalam mengimplementasikan kekuasaannya. Padahal pada dasarnya kekuasaan itu adalah amanah. Oleh karena itu, setiap orang Madura yang kebetulan memiliki kekuasaan sehingga menjadi figur rato sudah seharusnya bersikap hâp asor (sopan santun, arif dan bijaksana) sesuai dengan falsafahand dan etika dalam kebudayaan Madura. Pertanyaannya kemudian, bisakah para rato yang ada di Madura, bersikap dan berperilaku demikian? Jawabannya haruslah bisa, jika mereka masih mau mengaku dan diakui sebagai orang Madura yang beretika, berfalsafah, dan berbudaya Madura!


Continue Reading | komentar

Bayangan

Pentigraf LilikSoebari
 


Di dinding yang terlihat hanyalah punggung dan rambut sebahu. Tiga tahun lebih rutinitas ini dilakukan, setiap hari Ely duduk di jendela lantai kamar atas. Jendela itu persis menuju anak tangga menghadap arah selatan sehingga Ely bisa memandangi dirinya sendiri dengan leluasa. Berbeda ketika bercermin Ely benar-benar dihantui ketakutan, warna hitam di sekitar mata semakin melebar, kulitnya mengeriput dan wajah pucatnya mengingatkannya pada mayat hidup di film-film horor.
Berbeda ketika melihat bayangannya di dinding semuanya serba sempurna dan itu sangat menghangatkan, sehangat matahari pagi yang merambati tengkuk dan punggungnya.

Sambil menatapi bayanganya seringkali perasaan putus asa menghantui dan itu ditelannya sendiri dalam-dalam. Kecamuk geram, marah, sakit mampu dihalau dengan mendatangkan senyum, karena itu adalah pilihan. Pilihan supaya kedua anaknya tidak terluka karena bagaimanapun Bram, suaminya telah berkorban demikian luar biasa. Kehilangan rumah warisan untuk biaya rumah sakit, tabungannya terkuras habis dan merawat sejak Ely cacat. Semuanya berubah drastis sejak kedua kakinya tidak terselamatkan, lumat terlindas. Dan semuanya kini hancur, semuanya sejak Ely mendengar perbincangan yang tidak sengaja didengarnya ketika pura-pura tertidur.

Wajar, Bram masih sehat, kuat dan perlu pemenuhan hasrat libido. Niat baik Ely agar Bram kawin ditentang kedua anak gadisnya. Dan itulah sumber petaka karena diam-diam Bram menjalin asmara dengan rekan kerja, janda cantik, Siska. Pertengkaran sengit Bram dan anak gadisnya benar-benar memojokkan Ely, kekuatan yang dibangunnya runtuh. "Satu bulan kedepan aku tidak bisa menyembunyikan kehamilanku, " Lontaran kalimat Siska perlahan menjadikan Ely terpuruk dan menerbangkan jiwanya pada masa kanak-kanak yang pahit. Dan bayangan itu kini berbaur dengan bayangannya di dinding, membentuk siluet aneh, dan mengajaknya untuk memasuki dunia bayangan. Hidup adalah pilihan, pelan-pelan Ely memasukkan butiran-butiran obat sembari menatap bayangannya di dinding yang semakin mengabur.

Sumenep, 21.06.2016
Continue Reading | komentar

Usai

 Pentigraf Lilik Soebari


Seperti siang-siang sebelumnya dia duduk sembari memeluk dengkul selepas mengajar dan riuh rendah pekikan-pekikan anak menguap di udara. Cahaya matahari menembus daun cemara yang rimbun dan memberikan keteduhan bukan hanya pada tubuh paruh baya dan burung gereja bercericit riuh tetapi juga ulat-ulat hitam yang bergelantungan dan menitipkan hidup dan kepakan sayap pertamanya penuh warna.

Satu minggu telah berlalu, keriuhan pesta dan pujian mengalir seperti bah masih berdenging di telinga. Sungguh kepuasan dan kebahagiaan memenuhi seluruh aliran nadi karena impian putri semata wayangnya tercapai dalam balutan kemewahan, dihadiri lebih dari tiga ribu tamu sebagai ratu bersanding raja dalam hitungan jam. Semua puncak kemewahan sebanding dengan keringat dan dana yang mengucur sangat deras dari kantong tabungannya selama hampir dua puluh lima tahun dan menguburkan impiannya menginjakkan kaki dirumah kekasih sejati dan abadi. Dia tidak menyesalinya karena kebahagiaan anak semata wayang diatas segala-galanya.

Sungguh tak terbersit penyesalan dalam renungan panjangnya setiap siang dibawah rimbun cemara. Kebahagiannya demikian membuncah karena doa-doa panjang ditengah pekat malam, sholat sunnah yang tak pernah absen dan puasa Senin Kamis yang tak pernah tumbang terkabul. Tuhan telah memberikan berkah yang demikian melimpah. Dia telah menyiapksn masa depan putri semara wayang dan juga cucunya yang belum terlahir rumah, sawah dan hipermarket. Semuanya telah dipersiapkan. lalu untuk dirinya apa? Candaan teman sejawat tempo hari melintas dan tiba-tiba mengusik menghentak hatinys. Ya, untuk dirinya apa? Kepompong-kepompong muda dalam pertapaannya berdenyut ketika dia tengadah mencari jawaban itu.


Sumenep, 15 Mei 2016

Continue Reading | komentar

Syaf Anton Wr, Sastrawan dan Budayawan Madura



Syaf Anton Wr, sastrawan ini juga dikenal sebagai budayawan Madura. Ia banyak menulis puisi, cerpen, artikel dan jurnalistik dengan menghasilkan ratusan karya, dan dimuat diberbagai media di daerah maupun nasional. Ia juga aktif mengapresiasi dan memotivasi aktifitas budaya di daerahnya.

Dalam pembinaan dan pengembangan komunitas  pernah mendirikan Bengkel Seni Primadona; (1984), mendirikan Sanggar Sastra Mayang; (1997), mendirikan dan Penggerak Forum Bias (Forum kajian sastra dan budaya) (1994 sampai sekarang), mengkoordinir seniman dari semua bidang seni, sekaligus sebagai koordinator Jaringan Seniman Sumenep (JSS) (1999), dan Ketua Umum Dewan Kesenian Sumenep (2000-2005).

Kumpulan puisi tunggalnya, Cermin (1990) dan Bingkai, Pengantar Prof. Suripan Sadi Hutomo (Pusat Dokumentasi Sastra Suripan Hutomo, 1993). Terakhir Langit Suasa Langit Pujangga (Kaleles Yogyakarta, 2015) -  ISBN: 978-6021669-29-8

Selain itu beberapa karyanya terangkum dalam antologi bersama, antara lain: Puisi Penyair Madura (Sanggar Tirta, 1992), Festival Puisi Jatim (Genta, 1992), Pameran Seni Rupa Keterbukaan (KSRB, 1994), Tanah Kelahiran (Forum Bias, 1994), Nuansa Diam (Nuansa, 1995), Sajak-sajak Setengah Abad Indonesia (TBS, 1995), Kebangkitan Nasional II (Batu Kreatif, 1995),Tabur Bunga Penyair Indonesia I (BSB, 1995), Bangkit III, (Batu Kreatif, 1996), Tabur Bunga Penyair Indonesia II, (BSB, 1996), Api Pekarangan (Forum Bias, 1996), Negeri Impian (Forum Bias, 1996), Negeri Bayang-Bayang (FSS, 1996), Langit Qosidah (FKBI Annas, 1996), Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Luka Waktu (TB Jatim, 1998), Memo Putih, (DKJT, 2000) Antologi Puisi Indonesia 1997 volume 2 (Angkasa Bandung), Antologi Puisi Puisi Modern “Equator”  (Yayasan Cempaka Kencana. 2012) dan sejumlah antologi lainnya yang tidak terdokumentasi. Biodatanya juga tercatat dalam buku “Leksikon Susastra Indonesia” (Balai Pustaka, 2000)

Pertemuan sastra yang pernah diikuti;  “Jambore Puisi Jatim 83” di Sumenep, karya puisinya dibahas, (1983); “Forum Puisi Indonesia 87”, di TIM Jakarta (1987), “Penyair Madura dalam Forum” (1994), “Refleksi Setengah Abad Indonesia”, di Solo (1995), “Festival Seni Surabaya” (1996), “Pertemuan Sastrawan Nusantara IX / Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997” di Kayutanam Sumatera Barat (1997), dan sekian pertemuan seni satra lainnya di berbagai daerah

Perhatian peneliti pada karyanya “Melawan Kucuran Keringat”, Suripan Sadi Hutomo (1992), Sastra Indonesia di Madura : Tinjauan Pengarang, Hasil Karya dan Media, Setiawan dkk (1992 / 1991), dan puisinya kerap menjadi kajian skripsi/tesis  mahasiswa UWK Surabaya, IKIP/UNISA, STKIP PGRI Sumenep dan referensi karya-karya sastra dari beberapa lembaga.

Pemegang desk rubrik sastra “Ballada” Harian Bhirawa Surabaya – menggantikan Suripan Sadi Huotmo - (1979-1981), Redaksi majalah sastra budaya berbahasa Madura “Jokotole”. Terbitan Balai Bahasa Jawa Timur (2014 sampai sekarang),

Pernah menjadi nara sumber Penataran Pimpinan Group Seni Budaya - Kanwil Depag Prop. Jatim di Surabaya, nara sumber  Pelatihan Tenaga Penyuluh Sadar Wisata Jatim (1992), nara sumber Pelatihan Jurnalistik Majalah MPA Surabaya, nara sumber Pelatihan Seniman se-Jatim, Dinas P dan K Prop. Jatim  Pemakalah Sarasehan Bahasa dan Sastra Jatim, di Balai Bahasa Surabaya (2000), pemakalah Sarasehan Bahasa dan Sastra Jatim, di Unesa  Surabaya (2000), pelatihan Seniman se Jatim – Work Shop Skenografi, di Surabaya (2000), penghargaan sebagai pembina kesenian terbaik, versi Papiwira Sumenep (1998), penghargaan sebagai penulis puisi terbaik, versi Papiwira Sumenep (1998), penghargaan sebagai pembicara dialog, seminar, juri dari organisasi, lembaga pemerintah, perguruan tinggi dan sebagainya dan penghargaan dari istri, anak-anak yang memberi kebebasan dalam berkreasi dan kesempatan berbuat.

12 September 2016 buku puisinya “Langit Suasa Langit Pujangga” mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Timur dan 20 Oktober 2016 mendapat penghargaan sastra dari Gubernur Jawa Timur sebagai kreator bidang sastra Jawa Timur 

Website official www.lontarmadura.com
Continue Reading | komentar

M. Shoim Anwar, Sang Doktor Cerpenis



M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang,  Jawa Timur. Setamat dari SPG di kota kelahirannya (1984), dia melanjutkan ke Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Surabaya/Universitas Negeri Surabaya,  hingga memperoleh gelar doktor. Program S2 dan S3 diselesaikan dengan predikat cumlaude.

Shoim  banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi berbahasa Indonesia, Inggris, dan Prancis,  seperti Cerita Pendek dari Surabaya (editor Suripan Sadi Hutomo), Negeri Bayang-bayang (editor D. Zawawi Imron, dkk.), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (editor Korrie Layun Rampan), Dari Fansuri ke Handayani (editor Taufiq Ismail, dkk.), Horison Sastra Indonesia (editor Taufiq Isamail, dkk), Black Forest (kurator Budi Darma), New York After Midnight (editor Satyagraha Hoerip), Beyond the Horizon (editor David T. Hill), Le Vieux Ficus et Autres Nouvelles (editor Laura Lampach), dll.

Kumpulan cerpen Shoim yang telah terbit adalah Oknum (1992), Musyawarah Para Bajingan (1993), Limau Walikota (ed.,1993), Pot dalam Otak Kepala Desa (1995), Bermula dari Tambi (ed.,1999), Soeharto dalam Cerpen Indonesia (ed., 2001), Sebiji Pisang dalam Perut Jenazah  (2004), Perempuan Terakhir (2004), Asap Rokok di Jilbab Santi (2010), Kutunggu di Jarwal (2014), dan kumpulan drama Theatrum - Malam Terakhir (ed.,2013).  Novelnya yang pernah dipublikasikan Meniti Kereta Waktu (1999), Sang Pelancong (1991), Angin Kemarau (1992), Tandes (1999), serta Elies (2006).  Buku lain yang ditulisnya adalah  Sejarah Sastra Indonesia (2012), Sastra Lama (2013), dan Sastra Rebonding (2013), dan Sastra yang Menuntut Perubahan (2015) | Lilik Soebari

Continue Reading | komentar

Materi Cerita Anak

Oleh Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd.



Materi atau permasalahan yang diangkat dalam menulis cerita anak sebaiknya kontekstual. Artinya, masalah tersebut sesuai dengan umur dan permasalahan yang secara umum dialami oleh anak-anak. Semakin dapat dimengerti oleh anak di berbagai wilayah, semakin baik cerita tersebut  karena memiliki nilai-nilai dan  muatan  universal.  Karena itulah cerita anak  biasanya menonjolkan  permasalahan  hubungan  antarteman, keluarga, atau persekolahan yang bersifat sehari-hari.

Materi  yang bersifat lokal  tentu boleh diangkat sebagai bahan cerita anak, tetapi  penyajiannya secara teknis harus dapat dipahami anak-anak. Sebagai contoh, kerapan sapi adalah budaya khas dari Madura. Bila ini diangkat jadi cerita anak, yang perlu ditonjolkan adalah perilaku para tokohnya, bukan seluk-beluk kerapannya. Muatan lokal yang diangkat dapat memperkaya  wawasan budaya bagi anak-anak.

Tentu saja  materi cerita anak harus  terhindar dari unsur sara, pornografi, dan kekerasan. Anak-anak sangat  mudah terpengaruh  karena sifat imitatifnya  terhadap apa yang dilihat, didengar, serta dibacanya.  Materi atau aksi yang membahayakan jangan diangkat sebagai cerita anak  karena dikhawatirkan ditiru atau disalahgunakan anak-anak.  Kita pernah mendengar berita ada anak-anak meninggal dunia karena meniru perilaku  film/tayangan di televisi.  Deskripsi penggunaan bahan-bahan tertentu yang bersifat  kimiawi, kekerasan, dan mistik  perlu dihindari.

Di samping cerita tentang binatang/fabel, anak-anak umumnya juga tertarik dengan cerita  yang berkaitan dengan hantu. Bila hal tersebut  diangkat sebagai bahan cerita, jangan sampai kisah itu justru membuat anak semakin takut dan tidak punya keberanian.  Kisah harus membuat anak jadi pemberani dan tidak takut lagi pada hantu.  Kisah Scooby Doo yang terkait dengan hantu-hantuan, hampir semuanya  berakhir  dengan  membuka kedok bahwa hantu tersebut ternyata palsu alias buatan manusia semata.  Keberanian anak-anak  dibangkitkan  dengan membuka kepalsuan.               

Karakter Cerita Anak

Misi  dominan cerita anak adalah membentuk karakter pembacanya.  Tokoh dalam cerita anak  diusahakan bersifat hitam-putih. Artinya,  terdapat tokoh yang berkarakter baik (putih) dan berkarakter buruk (hitam). Kedua tokoh tersebut dipakai sebagai model agar anak-anak dapat membedakan dengan jelas siapa yang baik hati dan siapa yang tidak. Tokoh yang tidak baik pada akhirnya  akan menyadari perbuatannya. 

Karakter tokoh dalam cerita anak lebih ideal ditampilkan di awal sehingga menjadi persoalan yang langsung diketahui pembacanya.  Bila tokoh utamanya berkarakter buruk di awal kisah,  berangsur-angsur karakter tersebut harus  menjadi baik di akhir kisah sebagai misi penyadaran.  Perhatikan paragraf awal cerpen  “Tindakan Kasih Guruku” karya Veronica Pujisetyorini  sebagai  Juara I Lomba Cerpen Gurun 2004 yang diadakan majalah Bobo.  
           Aku menunduk sedih di ruang guru siang itu. Sedih karena menyesali perbuatanku yang memalukan itu.
           Perbuatanku kemarin memang tak bisa dimaafkan oleh para guru dan teman-temanku. Tak heran, bila para guru, terutama wali kelasku sangat marah atas perbuatanku itu. Dan aku merasa semua suara  menyalahkan aku, dan semua mata menatapku  penuh amarah.  Sungguh, aku sangat menyesali kebodohanku itu.

Paragraf terakhir kisah tersebut adalah sebagai berikut:
                        Kini aku  bisa merasakan tindakan kasih Bu Unung. Aku merasa dilindungi dan dibela. Perasaan ini  sangat indah. Entah bagaimana perasaanku andai Bu Unung tidak melakukan tindakan kasih ini.

                        Esok harinya aku mengembalikan saputangan Bu Unung di meja kerjanya. Kusisipkan secarik surat tanda terimakasih atas kebaikan  beliau.  Sejak kejadian itu kami menjadi akrab. Terimakasih atas kasih sayangmu, Bu... Aku menjadi lebih bersemangat datang ke sekolah. Karena ada senyum Bu Unung di sana.
              (Tindakan Kasih Guruku, Kumpulan Cerpen Karya Guru 2, Pustaka Bobo, 
                hlm. 7 & 17).

 Karakter atau watak  tokoh dalam cerita anak harus benar-benar diperhatikan oleh penulis. Tokoh harus digerakkan sesuai  dengan watak yang sudah ditentukan. Hubungan sebab-akibat ketika  tokoh bertingkah laku  harus dapat diterima secara akal sehat oleh anak-anak sebagai pembaca. Bagi pengarang, tokoh bukan seperti boneka yang bisa digerakkan sesuka hati.  Setiap tokoh punya karakter atau watak sehingga tingkah lakunya pun harus logis.  Dengan kata lain, pengarang harus tunduk kepada karakter tokoh. Perubahan watak tiap tokoh harus logis.

 Ada beberapa teknik  menggambarkan karakter tokoh,  antara lain: 1. Dilukiskan langsung oleh pengarang melalui deskripsi,  2. Melalui dialog antartokoh , 3.  Melalui reaksi tokoh lain, 4. Melalui penggambaran  lingkungan sekitar tokoh , 5. Kombinasi.

 Pengarang dapat mengambil cara-cara penokohan di atas sesuai kepentingan. Pada umumnya penokohan dilakukan  lebih dari satu teknik.   Ini juga untuk mengatasi agar bentuk pengungkapan cerita tidak monoton memakai satu pola. Pengungkapan cerita yang ideal  itu seimbang antara deskripsi dan dialog. Bila deskripsi yang dominan cerita akan menjadi  agak membosankan. Bila dialog yang dominan akan  terkesan cair.  Penggabungan yang seimbang antara deskripsi dan dialog akan menjadikan cerita lebih segar.

Alur Cerita

Kisah yang diperuntukkan orang dewasa, bila dilihat dari standar mutu karya seni selama ini, umumnya  menghindari gaya yang menggurui. Cerita yang menggurui  dinilai tidak bermutu karena menganggap pembacanya bodoh.  Alur cerita untuk orang dewasa  umumnya berakhir agak terbuka, yakni tidak diselesaikan secara total karena memberi kesempatan untuk berpikir dan menarik amanat sendiri.

Berbeda dengan  kisah orang dewasa, cerita untuk anak perlu diselesaikan dengan alur tertutup, yaitu semua persoalan diselesaikan dengan tuntas. Para tokoh yang salah harus menyadari kesalahannya, sedangkan tokoh yang baik harus menunjukkan kebesaran hatinya hingga dia semakin baik kesannya. 
    
Penyelesaian kisah untuk anak  harus menghindarkan  dari tindak kekerasan.  Persoalan psikologis lebih dikedepankan  dalam penyelesaian masalah secara tulus, bukan penaklukan  dan keterpaksaan.

Karena kesadaran yang tulus, cerita anak yang ideal berakhir dengan  happy ending, ada semangat dan motivasi untuk lebih baik di masa mendatang. Para tokoh menemukan keceriaan bersama-sama.

Penyajian Fisik

Cerita untuk anak  memerlukan pendukung  agar kehadirannya menarik dan memancing minat baca anak-anak.  Baik dimuat di majalah maupun  dalam bentuk buku, cerita untuk anak perlu  diberi ilustrasi atau gambar sebagai pendukung.  Gambar atau ilustrasi yang menarik,  apalagi berwarna, menjadi nilai tambah kehadiran cerita anak.

Pada tahap awal, anak-anak umumnya melihat terlebih dahulu gambar atau ilustrasi   pada cerita yang ada.  Bahkan, karena gambar atau ilustrasi itulah anak-anak  mau membaca ceritanya.  Fantasi anak-anak memang tumbuh lebih awal dibanding logika. Sementara itu anak juga punya naluri untuk mengonkretkan  apa yang ada dalam fantasinya. Pada situasi demikian itulah kehadiran gambar atau ilustrasi menjadi penting.
                                                                                          Surabaya, 2017

Disampaikan pada workshop penulisan cerita Rumah Literasi Sumenep di Aula SMA PGRI Sumenep , 19  Febuari 2017  


Tulisan bersambung:
  1. Menulis Cerita Anak
  2. Materi Cerita Anak



Continue Reading | komentar

Menulis Cerita Anak

Oleh Dr. M. Shoim Anwar, M.Pd.


 Secara umum, perkembangan manusia mengalami beberapa fase, yaitu balita, anak-anak, remaja, dewasa, dan tua.  Fase anak-anak  berkisar antara umur 6 -12 tahun ketika mereka  duduk di sekolah dasar.   Pada umur inilah kematangan mereka dalam hal baca-tulis    mengalami sensitivitas yang sangat baik.  Penanaman nilai-nilai melalui literasi, khususnya yang berbentuk cerita anak, menjadi  penting dan strategis. Pada masa ini pula  pembentukan  pembiasaan membaca  harus dibangun dengan sungguh-sungguh  sebagai  fondasi masa berikutnya.

Cerita anak, sebagai salah satu genre sastra, adalah salah  satu media kultural yang baik untuk membentuk karakter, motivasi,  pengetahuan, serta hiburan  bagi anak-anak. Anak-anak membutuhkan  cerita sebagai  media untuk memenuhi naluri estetis, imajinatif, dan permainan.  Dari masa lampau, di mana pun,  anak-anak menyukai cerita yang didongengkan oleh orang tuanya.  Sastra lisan  yang diturunkan dari generasi ke generasi juga harus tetap dijaga  sebagai kekayaan  budaya. 

Tentu saja tidak semua cerita rakyat atau dongeng cocok untuk konsumsi anak-anak.  Dongeng si Kancil misalnya, di satu sisi, punya efek pesan yang kurang baik karena adanya kegemaran si Kancil untuk  “menipu” atau “mencuri”.   Jangan-jangan merebaknya korupsi di Indonesia  dan sulit diberantas karena efek buruk dari dongeng-dongeng si Kancil.  Demikiajn pula dongeng  Jaka Tarub dan Terjadinya Candi Rara Jonggrang  dengan berbagai variasi yang ada, semuanya menggunakan strategi “mencuri” dan “menipu”  untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Dunia terus berkembang. Meski dongeng dan cerita rakyat tetap bertahan, ragam cerita untuk anak mengalami  perluasan bentuk.  Media elektronik  semakin  diakrabi anak-anak. Cerita untuk anak banyak ditampilkan di sana. Peran orang tua semakin berkurang dalam mentransformasikan  nilai-nilai melalui  cerita lisan.  Sementara itu tidak sedikit cerita atau film yang konon untuk anak, karena para tokohnya juga anak-anak  atau binatang,  tidak jarang  memiliki efek pesan yang kurang baik. Kekerasan dan kejahatan sering menjadi modus untuk mencapai tujuan. Film serial atau bacaan Mickey Mouse dan Tom and Jerry  umumnya dipenuhi adegan kekerasan.   Pada bagian lain, tidak sedikit pula cerita yang konon untuk anak, karena tokohnya memang anak-anak, ternyata diselerai oleh orang dewasa karena anak-anak hanya dijadikan alat,  misalnya serial Crayon Shinchan. Serial Detektif Conan terasa terlalu tinggi  untuk  konsumsi anak-anak karena memang sesungguhnya Conan sendiri bukanlah anak-anak yang murni.

Literasi melalui media sastra anak harus dikembangkan untuk menandingi media  elektronik.  Pada perkembangan yang normal, budaya literasi dimulai dari lisan, bacaan, kemudian sinema/elektronik.  Budaya membaca pada anak-anak Indonesia sekarang umumnya terlompati  karena adanya media elektronik semacam televisi.  Kebiasaan  dan ketahanan dalam membaca semakin tidak terlatih.  Akibatnya anak-anak suka mengeluh kalau mendapati bacaan  yang dirasa panjang, misalnya soal-soal ujian pada pelajaran bahasa Indonesia. Nilai mereka umumnya tidak bagus karena lemahnya literasi mulai dari tahap awal.
             
Sastra Anak
            
Sastra anak adalah sastra  yang diperuntukkan  anak-anak.  Sastra anak boleh ditulis oleh anak-anak maupun orang dewasa.  Bila anak-anak yang menulis, sastra anak akan sangat autentik  karena benar-benar mencerminkan dunia anak yang alamiah, baik terkait tema maupun bahasa khas mereka.  Dengan segala kelebihan dan kelemahannya, sastra yang ditulis anak-anak menjadi sarana pembelajaran untuk menuangkan  ide dan imajinasi mereka.  Sudah banyak karya anak-anak yang diterbitkan, yang paling  dikenal dibumbuhi dengan subjudul  Kecil-kecil Punya Karya (KKPK).  Tentu saja KKPK sudah mengalami editing orang dewasa  karena diterbitkan secara komersial.  Beberapa majalah anak-anak seperti Bobo dan Mentari  juga memuat cerita karya anak-anak.    

Sastra anak yang ditulis oleh orang dewasa tentu sifatnya lebih “canggih”, terkontrol dan memiliki perhitungan  orang dewasa.  Sastra anak jenis kedua ini muatannya sudah diperhitungkan secara dedaktis  sebagai media penanaman sikap dan pengetahuan.  Meski begitu, kadang roh anak-anaknya kurang mengena karena sudah  ada jarak dengan dunia penulisnya.  Tidak bagus kalau sastra untuk anak terlalu diselerai orang dewasa, mirip dengan peragaan busana yang diikuti anak-anak, tetapi  nuansa anak-anaknya hilang karena anak-anak hanya dijadikan alat oleh selera orang tua sehingga  mereka menjadi terlalu genit dan tidak alamiah.   

Sastra  anak yang ditulis orang dewasa dapat kita baca pada harian Kompas dan majalah Bobo. Majalah tersebut juga menerbitkan cerita-cerita itu menjadi kumpulan cerpen secara berkala, termasuk  Kumpulan Cerpen  Karya Guru yang merupakan hasil lomba majalah  tersebut.  Paling tidak, dalam  menulis cerita untuk anak, cerpen pemenang dalam kumpulan di atas dapat dipakai sebagai model.

Seperti  pada umumnya, genre  sastra anak dapat berupa  puisi, prosa, maupun drama. Khusus prosa, bentuk sastra anak yang paling cocok adalah cerita pendek.  Panjang cerpen untuk anak maksimal  2.000 kata, tergantung  untuk siswa kelas berapa.  Untuk siswa kelas I – II, jumlah kata sebaiknya dibawa 500  kata.  Jumlah kata tersebut  dapat ditingkatkan sesuai dengan  kelas atau usia siswa.  Penulis sastra anak perlu memperhitungkan untuk siswa kelas berapa karya tersebut dicipta.      

Bahasa Cerita Anak

Dalam disiplin sastra murni, bahasa  karya sastra  umumnya memiliki makna konotasi sebagai akibat faktor imajinasi yang menghendaki adanya nilai rasa dan makna ganda. Semakin baik karya sastra akan  semakin banyak memancarkan kemungkinan makna.  Tafsir ganda terhadap karya sastra  sengaja diciptakan pengarang untuk  mencapai efek estetis secara simbolis. 

Dalam menulis sastra anak, makna konotasi justru harus diminimalkan agar tidak terjadi bias makna. Bahasa cerita anak harus bersifat denotasi, bermakna lugas atau  terus terang  agar anak dapat  menangkap makna atau pesan  yang diharapkan sang penulis.  Bahasa cerita anak lebih difungsikan sebagai sarana komunikasi  yang mudah dipahami, bukan sarana ekspresi  estetis yang mempribadi. 

Ada baiknya kita menghindari kalimat-kalimat panjang  atau kalimat majemuk yang kompleks   dalam menulis cerita anak, baik dalam deskripsi maupun dialog.  Utamakan menggunakan bahasa Indonesia yang baik agar dapat memupuk rasa kecintaan terhadap bahasa Indonesia.  Banyaknya  buku cerita yang ditulis oleh anak/remaja yang  menggunakan judul bahasa Inggris, padahal isinya bahasa Indonesia, sebenarnya fenomena yang kurang baik. Kita khawatir para penulis tersebut merasa  lebih bergengsi bila menggunakan bahasa asing secara campuran.  Rasa rendah diri itulah yang perlu kita atasi.

Penggunaan bahasa juga terkait dengan kesan yang dimunculkan dari kata-kata yang dipakai. Bahasa memang media utama dalam cerita sehingga semua elemen cerita dapat dilihat dari bahasanya. Kutipan  dari paragraf kedua cerpen  “Guru yang Mengubah Duniaku”  karya Nur Paridah di bawah ini terasa sekali  ada selera  orang dewasa  dalam mendeskripsikannya, padahal yang bertutur adalah anak di pedesaan terpencil. Hanya karena membaca majalah Bobo di perpustakaan dia dapat berkisah seperti berikut ini.
Sebuah desa tanpa penerangan listrik seperti teman-teman rasakan di kota. Jadi kami tidak mengenal TV. Apalagi permainan Time Zone. Dan tak ada pasar, boro-boro mall. Keadaan ini  membuat kami bagai terpisah dengan dunia luar. Kami tenggelam dalam irama kehidupan  yang terbelakang. Bahkan dulu aku tidak menyangka ada dunia lain selain desa kami dan sekitarnya. Betapa banyaknya yang tidak kami ketahui sebelum jendela ke masa depan itu terbuka bagi kami.

       (Sahabat, Kumpulan Cerpen Para Guru 3, PT Penerbitan Sarana Bobo, hlm. 19).

Tulisan bersambung:
  1. Menulis Cerita Anak
  2. Materi Cerita Anak

           

Continue Reading | komentar

Menulis Artikel Best Practices

Much. Khoiri
Much. Khoiri
Best practices merupakan praktik-praktik yang baik dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk dalam sebarang disiplin ilmu dan profesi. Dokter punya best practices, demikian pun perawat, tabib, ustadz, guru, atau penjual obat oles. Best practices, tentu, berbasis pengalaman dan sejalan dengan kompetensi yang dikuasainya.

Adalah sebuah best practices tatkala dokter membantu sembuhnya pasien yang sakit menahun, tatkala guru menyadarkan siswa yang bandelnya minta ampun, atau tatkala perawat berhasil melatih penderita lumpuh hingga berdiri dan berjalan kembali. Analog dengan itu adalah "keberhasilan" tertentu yang dilakukan oleh tabib, ustadz, atau penjual obat oles.

Dalam perspektif ini, guru pastilah punya best practices dalam pembelajaran dan pendidikan (pedagogik). Meski mungkin ada kemiripan tertentu, best practices seorang guru berbeda dengan guru lainnya. Ada keunikan atau kekhasan di antara mereka. Dan inilah yang mencirikhaskan guru satu dan lainnya dengan segala tingkat profesionalitasnya.

Dalam pembelajaran, misalnya, seorang guru melakukan tindakan untuk membantu siswa yg nilai Bahasa Inggris (dalam menulis narasi, misalnya) rendah, hingga siswa mampu mengatasi kesulitannya. Dalam pedagogik, ada guru yang "menyembuhkan" kebandelan siswanya dengan sentuhan empati dan kasih sayang. Masih banyak contoh lain yang tidak perlu dideretkan di sini.

***
Karena sejatinya best practices merupakan pengalaman para guru sendiri, maka menulis tentangnya pun seharusnya tidaklah sulit. Pengalaman guru tak habis-habisnya bisa ditulis. Sebab, guru memang akrab dan menyatu dengan best pracrices mereka masing. Terlebih, jika sang guru itu kreatif, best practices-nya mungkin lebih beragam dan melimpah.

Bagaimana caranya? Tulislah seperti berbicara atau curhat kepada orang lain, dengan menggunakan bahasa tutur "Saya.....blablabla". Misalnya terkait pengalaman membimbing siswa ke "jalan yang benar", maka mulailah utk menuturkan siapa namanya, bagaimana penampilannya, bagaimana kebandelannya.....Semua tuliskan dengan lancar. Lalu, teruskan dengan terapi apa yang Anda lakukan terhadap siswa itu,  bagaimana hasil pengamatan (dan evaluasi) Anda terhadapnya, dan kemudian apa simpulan atau hikmahnya.

Dalam menulis, jangan terlalu hiraukan kaidah-kaidah penulisan atau tata kalimat dan paragraf. Biarkanlah gagasan meluncur seperti air yang mengalir. Inilah yang disebut curhat lewat tulisan. Jangan berhenti hingga curhatnya selesai. (Nanti bisa direvisi. Sekarang, lanjutkan curhatnya, hingga tuntas.)

Dengan teknik curhat begitu, Anda sejatinya memanfaatkan otak kanan alias bawah sadar (dengan kemampuan yang luas dan dalam). Suasa emosional bisa memenuhi diri Anda sehingga tulisan akan terasa mengalir. Bayangkan, betapa lancarnya kata-kata tak terucapkan tatkala Anda sedih, nah saat beginilah bawah-sadar Anda bekerja dengan efektif. Maka, sekarang tuliskanlah. Tentang revisi, itu urusan nanti.

Jika draf awal (naskah kasar) sudah selesai, Anda boleh istirahat sejenak. Dalam istirahat ini, Anda bisa mencari dan menemukan kata-kata mutiara, ungkapan filosofis, anekdot, dan sebagainya. Lalu, masukkan hasil pencarian ini ke dalam bagian-bagian tertentu pada draf awal tersebut. Kemudian, haluskan. Semua ini proses merevisi dari segi konten atau isinya: Menambah yang kurang, memotong yang berlebihan (tidak relevan).

Kemudian, periksa pula apakah tulisan Anda memiliki nalar dan pengucapan yang lancar dan teratur (enak diikuti). Saat ini Anda boleh menata paragraf, keutuhan dalam paragraf, dan keutuhan antar paragraf. Periksa pula, mungkin tulisan Anda perlu diawali dengan paragraf pembuka dan paragraf penutup yang memukau. Tulisan juga perlu memiliki 'unity' dan 'coherence'.

Demikian pun penggunaan bahasa. Anda perlu memeriksa bahasanya, termasuk penggunaan kalimat efektif, pemilihan diksi, tata bahasa, dan sebagainya. Ejaan juga harus benar penggunaannya. Dengan membenahi bahasa, suatu saat Anda sejatinya sedang belajar untuk siap menjadi seorang editor profesional.

Nah, sekarang tulisan best practices Anda sudah siap untuk disuguhkan kepada audiens Anda. Namun, tak perlu dipikirkan apakah ia akan memuaskan audiens. Percayalah, apa yang telah Anda tuliskan akan nenyejarah dan mengabadikan nama Anda.[]

*Much. Khoiri_adalah Dosen Unesa dan penulis buku "SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan" (2016)
Continue Reading | komentar

Si Pencabut

Pentigraf Lilik Soebari


Raungan sirine semakin menjauh dan lamat_lamat menghilang ditengah deru kendaraan bermotor, namun demikian petugas lalu lintas belum memberikan tanda untuk melintas baik dari jalur kanan maupun jalur kiri. Suara klakson terdengar dari empat penjuru. Petugas polisi tak bergeming masih tetap berdiri dengan posisi tangan lurus ke samping kanan. Tiga petugas dari arah kiri dan kanan tetap dalam posisi seperti itu. Para sopir dan pengendara motor hanya bisa mengumpat dalam hati. Serentak tiba-tiba suara klakson maupun deru kendaraan berhenti. Dari atas bus aku bisa melihat apa yang terjadi, sekitar sepuluh meter ada satu polisi duduk berjongkok, kedua tangannya meraup sesuatu, dan darah belepotan di kedua tangannya. Inilah yang membuat semua kendaraan diam terbungkam. 

Beberapa supir turun setelah tahu apa yang terjadi. Salah satunya menjulurkan kain yang dibuka dari balutan kepala. Penuh hikmah kemudian mereka memungut dan memindahkan sesuatu yang berserakan, tangan mereka memerah. Setelsh itu mereka pindah ke onggokan lainnya sekitar 3 meter dari yang pertama.. Jelas sekali sorot msta kesedihan terpancar. Setelah merampungkan memungut tanpa dikomando mereka komat_kamit memanjatkan doa. Ritual pun selesai, sopir yang membantu polisi kembali ke kendaraannya. 

Semua bernafas lega, bungkusan kain tersebut ditenteng salah satu polisi dan suara sempritan peluit menyadarkan para supir dan pengendara. Derum kendaraan kembali memekakkan telinga. Semua supir, pengendara maupun para penumpang tidak menyadari karena sejak awal ketika sirine meraung_raung dan kemudian diikuti rombongan pejabat tinggi melintas dengan kecepatan tinggi demikian asyik melihat formasi kentaraan patwal diikuti sedan-sedan mewah, bus-bus besar dan rombongan mobil. Rombongan besar pejabat tinggi, si empunya jalan dan siapapun takkan mampu menyentuh. -Dan merekapun tak peduli ketika roda-roda kendaraan mereka secara bergantian melindas dan mencabut nyawa tanpa jeritan.

Sumenep, 08 Mei 2016

Continue Reading | komentar

Materi Ajar

Lihat seluruh kategori Materi Ajar »

Tradisi Budaya

Lihat seluruh kategori Tradisi%20Budaya »

Lintasan

Lihat seluruh kategori Lintasan »

Interview

Lihat seluruh kategori Interview »

Figur

Lihat seluruh kategori Figur »

Ekspresi Diri

Lihat seluruh kategori Ekspresi Diri»

Kearifan Lokal

Lihat seluruh kategori Kearifan Lokal»
 
Support : Creating Website | Johny Template | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Lilik Soebari - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger