Rindu yang Terkurung


Pentigraf Lilik Soebari

Dengan seksama Surati memperhatikan setiap penumpsng yang turun dari bus. Gabungan petugas berbungkus plastik menyemprot setiap penumpang. Setelah lama menunggu akhirnya yang ditunggunya muncul. Meski memakai penutup Surati masih bisa mengenali sosok suami yang enam tahun silam berburu keberuntungan ke Malasyia.

Kerinduan memuncak menyatu dengan gairah yang membakar hanya sebatas menggelegak ke permukaan. Surati hanya bisa pasrah ketika Madruki harus dikarantina karena terindikasi terpapar virus. Semua kerinduannya hanya tertumpah sekejab lewat tatapan mata yang berkilat. Petugas dengan tegas menolak permintaan Surati untuk mencium tangan suaminya, bahkan sekedar mendekat meluapkan rindu. Surati meraung histeris ketika petugas berpakaian robot membawa suaminya yang berjalan oleng, meski kakinya melangkah separuh bagian tubuhnya menoleh.

Tak banyak yang bisa dilakukan Surati menunggu saat-saat yang tak pasti. Kabar bahwa Madruki positif Corona meluruhkan seluruh persendian dan hati. Beban itu semakin berat ketika tak ada satupun keluarga dekat dan jauh yang datang sekedar berkunjung menanyakam kabar. Rasa frustasi menyebabkan tubuh Surati menjadi limbung kemudiam ambruk. Di tengah ketidakberdayaannya Surati merasakan kehadiran Madruki, suami tercinta. Genggaman tangan, belaian dan ciuman penuh kasih sangat menenangkan dimalam-malam panjangnya. Dan ketika Madruki melepaskan genggamam serta melambaikan tangan Surati berteriak histeris . Saat kesadarannya pulih Surati merasakan tubuhnya berada di brankar dan di dorong oleh orang-orang berbaju tertutup lalu memasukkannya ke ambulance, membawanya entah kemana.

Sumenep, April 2020