Cerpen: Lilik Soebari
Dah seminggu ini Joy di bikin pusing tujuh keliling. Bukan karena tanggal tua dan duit belanja habis atau pekerjaan menumpuk. Sebab pusingnya karena HP.
Aneh bin ajaib, tiba-tiba saja banyak pesan masuk yang mempertanyakan mengapa Joy mengirim pesan-pesan mesra dan gambar porno.
"Kau gila, Joy," chat Yuli.
" Apaan, sih Nyai," balas Joy.
"Tambah sinting kau, ya? Ngapain kirim gambar orang ngentot? Awas, kulaporkan kau pada bojomu." Ancam Yuli.
Mata Joy terbelalak dan mulutnya menganga. Benar-benar gagal paham dengan kejadian itu.
Apalagi sudah dua hari nomor suaminya, yang saat ini bertugas di luar pulau ngak bisa dihubungi.
Untuk sementara waktu Joy menonaktifkan gawainya. Serba dilematis karena nomor-nomor penting tersimpan disana. Sedang HP yang khusus keluarga tetap diaktifkan
Akibat benda pipih error, Joy sampai di panggil atasannya di kantor pusat. Panggilannya dilakukan melalui rekan sejawat.
"Maksudnya, apa ini?" Pak Bos langsung menyodorkan gawainya begitu Joy duduk di kursi tamu.
Belum habis rasa lelah menempuh jarak hampir 10 km, Bondan langsung menodongnya. Dasar atasan ngak ada akhlaq, gerutu Joy.
Joy hanya menatap sekilas, tangannya sibuk membuka jaket dan meletakkannya di sandaran kursi.
Pak Bondan, sang bos masih tetap dalam kondisi sama. Tangannya terjulur.
Joy mengernyitksn dahi menatap gawai bosnya, tampak tampilan layar gambar love berjejer dan ada tulisan," miss you bos" serta beberspa kalimat rayuan. Bos Bondan menscroll dan Joy membaca semuanya karena penasaran.
"Ini saya yang ngirim?" Joy menatap sosok gendut didepannya.
"Pak, memangnya saya gila?"
Pak Bondan menarik tangannya dan menatap lekat mata Joy. Perempuan itu bergidik ngeri.
"Kau memang gila Joy," teriak pak Bondan, "Kau ingin keluargaku berantakan dan bubar?"
Joy ternganga.
"Istriku baca chat ini, dan ngamuk. Kau harus tanggung jawab, Joy."
"Sumpah pak! Saya tidak mengirim apapun pada Bapak. Demi Allah!" Sumpah Joy tak kalah nyaring.
Sesaat Joy ingat sesuatu.
"Pak, jangan-jangan HP saya jadi setan gepeng."
Pak Bondan menatap Joy, sesaat kemudian tawanya pecah.
"Setan gepeng?"
"Ya, Pak. Seminggu lebih HP saya ngirim sms dan pesan WA ke teman-teman, padahal saya merasa ngak ngirim apapun . Karena seperti itu gawai saya matikan," urai Joy..
Pak Bondan sepertinya berfikir, dan kembali menatap Joy.
"Mana HPmu?" Pinta sang Bos.
Joy membuka tas dan mencari-cari di semua saku tas.
"Itu tas apa locker?" Tanya pak Bondan melihat tas ransel Joy penuh dengan resleting.
Joy nyengir lalu memberikan gawai yang sudah ditemukan ditasnya.
Pak Bondan kemudian menyalakan HP itu, namun tetap saja tidak bisa menyala.
"Bawa charger?"
Kembali Joy mengaduk-aduk tasnya, namun tidak menemukan apapun.
Melihat itu Pak Bondan bangkit dari duduknya. Setelah menemukan benda yang dicarinya, lalu mencolokkannya ke stop kontak di dinding.
Joy hanya menatap tingkah Bosnya yang mengutak-atik gawainya. Serius sekali.
"HP mu ini kena bajak, Joy"
"Kena sambel bajak, Pak?"
"Dasar o'on," maki Pak Bondan.
Joy menatap tak mengerti ke arah Pak Bondan yang terus mengutak-atik gawainya.
Satu jam berlalu, akan tetapi bos gendutnya itu belum juga selesai-selesai.
"Pak, saya lapar," rengek Joy.
Pak Bondan tetap saja dengan keseriusannya.
"Besok malam saya tunggu di Conato Caffe. Bawa suamimu dan jelaskan kesemrawutan ini pada istriku," titah Pak Bondan.
"Pak..." protes Joy..
"Pulanglah," usir Bos Bondan seraya mengembalikan benda pipih itu pada perempuan berambut cepak itu. " Dan ingat, kau harus traktir kami."
Joy melangkah gontai, dan berbagai pertanyaan mengusik hatinya. Dia benar-benar tidak paham, apa yang sebenarnya terjadi.


