Melalui Pintu Pendidikan Kita Bangkit Memajukan Peradaban

K. Idris Jauhari
Bila kita cermati ada semacam kekhawatiran  bahwa generasi mendatang akan kehilangan nilai-nilai kebangsaannya. Konon semua itu dipicu oleh pemahaman globalisasi yang mungkin sangat sulit  meletakkan antara  batas wilayah maupun negara. Ironisnya ketika generasi muda dalam posisi itu, justru pendidikan kebangsaan sangat tipis dan bahkan kurang mendapat perhatian, baik dari institusi pendidikan maupun masyarakat pendidikan sendiri. Tak berlebihan apabila sementara kalangan mengkhawatirkan, nantinya semangat kebangsaan dan berbangsa akan tergerus oleh kekuatan globalisasi.
Seputar kebangsaan dan kebangkitan semangat kebangsaan di tengah-tengah arus globalisasi, dan bagaimana pula membangkitkan semangat kebangkitan di era Otonomi Daerah ? Berikut bincang-bincang reporter LS Sumenep, El Iemawati dengan K.H Idris Jauhari, Pimpinan Pon-Pes TMI Al-Amien Prenduan, Jum’at, 19/5/2006.
Menurut Kiyai Idris apa makna nasionalisme bagi bangsa kita. Saat ini ada indikasi perubahan-perubahan yang mendasar dalam memaknai kata tersebut, dalam arti ada pergeseran yang mengarah pada dis-integrasi. Apa perlu semacam istilah kebangkitan lokal untuk menguatkan kembali nasionalisme ?
Saya kira nggak lah, nasionalisme itu kan perasaan kebangsaan kita sebagai sebuah bangsa. Itu kan nasional, yang terdiri dari sekian banyak budaya-budaya lokal dan juga tradisi-tradisi yang diakomodir yang berlangsung di masyarakat, sehingga dia menjadi satu-kesatuan. Satu kesatuan tersebut berujung pada nasionalisme. Tapi kita juga harus sadar  bahwa manusia itu tidak bisa lepas dari unsur universalisme, terutama dalam kaitannya dengan makhluk Allah. Disinilah peran agama sangat penting, jadi agama jangan dimarginalkan, jangan dianggap sebagai bagian kecil saja dari kehidupan kita, tapi justru bagi seorang muslim agama ini menjadi pertimbangan utama  yang pertama, itu. Ini yang seringkali dilupakan
Tapi semangat berbangsa saat ini sudah tergerus oleh kekuatan global Kiyai Idris ?
Saya kira itu sebuah resiko dari sebuah kehidupan, kita nggak bisa lepas dari kehidupan dunia yang global, iya kan ? Tapi kita kan harus punya filter untuk menjaring mana-mana yang sesuai dengan nasionalisme kita dan tidak bertentangan dengan agama kita. Itu yang paling pokok bagi seorang muslim, bahkan agama diatas segalanya. Dan itu sudah diakomodir dalam Pancasila pada sila ketuhanan yang maha esa
Mungkin untuk menfilter kekuatan-kekuatan global apa perlu semacam kebangkitan lokal dalam era otonomi daerah ini ?
Saya kira kebangkitan ini sendiri, mungkin istilah yang paling tepat kalau kita melalui pendidikan yang baik, sehingga kita masing-masing orang, masing-masing individu, dalam lingkup keluarga, sampai  tingkat RT, RW itu memiliki kesadaran hidup bersama. Kebangkitan lokal-nya harus dimulai dari individu-individu juga, dari lingkup paling kecil yakni keluarga. Kalau nggak ya sulit juga, karena keluarga merupakan unit terkecil dari kehidupan bermasyarakat, saya kira istilah kebangkitan lokal itu terlalu bombastis.
Berdasarkan pengamatan banyak sekali daerah-daerah Otonomi membangun wilayahnya sesuai dengan topologi daerah tersebut ?
Saya kira sama dengan UU Otonomi Daerah, dengan desentralisasi yang dikembangkan dalam era reformasi ini seharusnya daerah itu bangkit dengan memanfaatkan potensi-potensi alam dan Sumber daya Manusia yang ada untuk kesejahteraan daerah itu, tapi sebagai masyarakat bangsa kita kan nggak lepas dari daerah lain, kita nggak bisa lepas dari aturan yang berlaku secara nasional dsb. Nah disini letaknya kejernihan hati kita, kecerdasan fikiran kita untuk mengakomodir antara kepentingan daerah dengan kepentingan- nasional itu.
Tentu saja kebangkitan itu harus mempunyai warna tersendiri, sesuai dengan watak, karakter dan budaya lokal. Menurut Bapak Kiyai Idris, warna apa yang nantinya memberikan kontribusi bagi pembangunan di Sumenep ?
Kalau di Sumenep sejak dulu saya mengatakan sebagai satu kabupaten yang ada di Madura dengan tradisi-tradisi khususnya, dengan kehidupan kepesantrenannya yang begitu kental di masyarakat. Mungkin ini yang harus digali, selain itu budaya-budaya lokal yang ada dan beragam nantinya juga bisa diakomodir dan disesuaikan dengan tradisi kehidupan masyarakat modern. Kalau Jombang dijuluki kota santri, mengapa Madura tidak ? Kenapa Sumenep tidak ? Karena hampir di semua desa, di semua kecamatan itu ada pesantren-pesantren yang begitu kental dengan masyarakatnya.
Berarti kebangkitan tersebut lewat jalur pendidikan yang sudah ada dan mendapatkan legitimasi dari masyarakat ?
Benar.
Tapi selama ini meskipun pesantren telah mendapatkan legitimasi dari masyarakat dan mengikuti trend dengan pendidikan modern, tapi kan tidak merata semuanya ? Bagaimana langkah ke sana untuk menyamakan persepsi ?
Itu begini, dalam kerja ke-beragamaan kita, kita harus tetap mempertahankan nilai-nilai yang lama,  WahabAllah itu istilahnya, Ala kodhi missholeh, kita pertahankan. Tapi Dalam hal operasional, menyangkut managemen menyangkut organisasi, ya kita adopsi dong. Unsur-unsur baru, yang kira-kira positif  dan tidak bertentangan dengan kodhi missholeh, dengan yang lama. Nah persoalannya sekarang yang menjadi pertanyaan utama yang masuk ala kodimissholeh itu yang harus kita pertahankan itu apanya ? Terus yang kita akomodir sebagai unsur-unsur baru yang lebih baik itu apa ? Seringkali kita salah mengerti dikiranya bahwa yang lama itu, gaya baju, gaya berpakaian, rumah atau cara-cara hidup yang  menunjukkan kekolotan atau tradisional, hanya itu saja. Padahal sebetulnya kalau menurut saya yang harus kita pertahankan dari ulama-ulama dahulu, kakek nenek moyang kita adalah jiwanya, seperti keihklasan mereka dalam bekerja, kesungguhannya, kesederhanaannya, cinta ilmu dan pengetahuan, karyanya. dan rasa persatuan, ukhwuwah yang begitu kuat, lha itu yang harus kita pertahankan, nah soal penampilan, soal manajemen itu saya kira bisa mengambil dari mana saja , dari Cina, dari barat .
Jadi memang memerlukan langkah-langkah ataupun pola-pola yang lebih spesifik, pola-pola yang bagaimana yang harus menjadi skala prioritas ke depan ?
Saya kira pekerjaan yang namanya pendidikan adalah kerja seumur hidup dan harus terus menerus, tidak bisa sekali seperti kita membalikkan telapak tangan, memang kita harus konsisten, melaksanakan  proses pendidikan itu baik kepada anak didik kita secara formal ataupun kepada masyarakat lewat proses yang panjang . inilah  persoalannya, kita buka cakrawala mereka, bahwa anda harus berpegang teguh pada prinsip ini . soal anda mau mengambil katakanlah unsur-unsur baru dari luar, silahkan, tapi lakukan dengan selektif, jangan asal ambil, jadi tidak usah dipertentangkan antara salaf atau modern, karena masing-masing punya wewenang  dan memang seharusnya diantara salaf  dan modern itu dijadikan satu kesatuan yang sama-sama melekat. Jadi yang salaf itu pertahankan sebagai ruh dan jiwa dalam berjuang tetapi unsur-unsur modernitas kita ambil sebagai metode, sebagai alat,  cara untuk meraih prestasi dalam rangka antisipasi dunia global seperti sekarang ini
Nah kedepannya bagaimana Bapak Kiyai, agar masyarakat Sumenep mampu berbicara lewat kemajuan peradabannya ….
Kalau menurut saya hanya lewat pendidikan, saya yakin sekali dengan pendidikan yang jelas visinya, misinya, arahnya kemudian dengan usaha yang terus menerus, ada kerja sama yang harmonis antara  para penguasa, para ulama, cendikiawan, para aulia, pengusaha-pengusaha itu  Insya Allah dan ya memang kadang-kadang diperlukan semacam payung hukum, seperti Perda-Perda, seperti aturan-aturan main yang jelas, sehingga dari bawah menurut proses kulturisasi, kita lakukan dari bawah lewat tapi juga lewat pendekatan dari atas  dengan cara yang baik. Lha kalau ketemu antara atas ke bawah kan, hasilnya dalam istilahnya ketemu antara struktur dan kultur, di sini kan harus ada wacana, harus ada dialog, harus ada usaha untuk menyamakan visi

bersambung: Pembebasan Manusia Dari Berbagai Belenggu