Begini seperti Allah dikatakan Rabbul Alamin, Rabbul
itu dari akar kata-kata pendidikan itu, Tuhan sekalian alam, Allah-lah
yang mendidik alam, Allah yang mengatur, Allah yang mengelola, Allah
yang merencanakan, Allah yang menentukan. Kita sebagai makhluknya yang
mengikuti sunnatullah ya harus begitu. Kalau istilahnya di rumah kita
harus menjadi rabbul bait, kita adalah pendidik dalam rumah, ketika berkembang menjadi ketua RT kita rabbul RT, menjadi camat ya rabbul
kecamatan. Jadi disini proses pendidikan sangat dan harus kuat, ndak
bisa kita melepaskan unsur pendidikan, dimulai dari unsur terkecil,
individu, keluarga, melebar dan meluas ke masyarakat. Jadi seperti
Bupati, misalnya itu harus menjadi rabbul
kabupaten, dia harus bisa mengimplementasikan sifat-sifat Allah sebagai
khalifahnya, di dalam mengasuh, membina, dan mengatur kabupaten ini.
Sehingga Dia betul-betul menjadi pendidik, pengayom bagi kabupaten ini
yang bisa menjaring semua aspirasi, mendengarkan masukan-masukan dari
semua unsur dan elemen. Saya kira kalau semua sesuai dengan stratanya,
maka kebangkitan dengan sendirinya akan terjadi.
Jadi masing-masing individu mempunyai kewajiban untuk membangun kebangkitan itu bersama-sama ?
Saya
melihat Sumenep ini sangat potensial untuk menjadi kabupaten contoh,
teladan dengan potensi alam yang dimiliki, dengan Sumber Daya Manusia
yang luar biasa. Apalagi Bupati-nya seorang kiyai, ini sangat luar
biasa. Alangkah bangganya kita sebagai orang Sumenep kalau kemudian
banyak kabupaten lain datang, dan belajar kenapa Sumenep koq bagus,
dalam semua sisi, baik fisik dan non fisik, penguasaan iptek dan
imtaknya, transparansinya, amanahnya
Caranya ?
Saya
pikir memang kita harus punya sifat rendah hati, untuk bersedia
menerima masukan, kritikan perbaikan sekaligus untuk instropeksi
terhadap diri kita untuk kekurangan-kekurangan, apapun itu, siapapun
itu, dari level pimpinan yang terendah sebagai kepala rumah tangga,
kita dengar dong suara anak kita, kita dengar suara istri kita ,
kemudian ke RT kita dengar suara tetangga kita, nah ketika kita sudah
pada posisi membuka diri , kemudian kita merenung kan ini asas
musyawarah kan ini, sudah tertanan. Wah, benar juga ya tapi begitu kita
tutup sulit sekali, dan pembelajaran proses demokrasi ditanamkan sejak
awal dan berlangsung terus menerus karena dalam rumah tangga harus ada
itu.
Falsafahnya bagaimana Kiyai Idris ?
Falsafahnya
itu falsafah imam sholat jamaah, sholat jamaah bisa dituntut oleh
seorang makmum dengan membaca subhanallah, tapi dia punya hak diikuti
selama dia benar. Kalau falsafah sholat jamaah bisa diterapkan dalam
kehidupan sosial kita, sekecil apapun di mulai dari rumah, Insya Allah
yakin akan berhasil.
Jadi kebangkitan itu akan terwujud apabila di mulai dari kecil lingkup keluarga, lingkup masyarakat dan kemudian melebar ?
Dan
itu namanya pendidikan, yang tidak terlepas dari proses pembebasan
manusia dari berbagai belenggu, yang pertama kemudian pemberdayaan,
potensi yang dia miliki kita berdayakan dan yang terakhir adalah
pembudayaan. Pembebasan pemberdayaan dan pembudayaan, itu hakekat
pendidikan. Kalau kita biarkan sebuah potensi dimiliki anak kita tanpa
kita bantu untuk dikembangkan kita sudah menyalahi prinsip pendidikan.
Yang paling penting adalah pembudayaan, agar dia (budaya) itu keluar, dan budaya itulah akhlaq.
Ketika budayanya sudah baik, akhlaknya sudah baik maka ketika akan
melakukan sesuatu tanpa lewat proses pemikiran, ya memang wataknya
sudah begitu. Jadi punya budaya-budaya yang bagus dalam kehidupannya.
Mulai bangun tidur sampai tidur lagi, budaya belajar, budaya bekerja,
budaya rukun, budaya toleransi, budaya menghargai perbedaan. Dan itu
hanya bisa dilalui dalam proses pendidikan
Jadi kebangkitan itu akan sendirinya terjadi kalau proses pendidikan berhasil ?
Benar, kalau mengambil istilah kebangkitan maka media pendidikan menjadi ruh dan jiwa untuk memajukan peradaban.


