Refleksi tentang peran ibu dalam keluarga, pendidikan, dan masyarakat di tengah perkembangan teknologi modern. Mengulas penghormatan terhadap perempuan dalam Islam, pentingnya pendidikan, pendampingan anak, serta upaya menjaga nilai budaya dan moral di era globalisasi.
Peran seorang ibu tidak pernah sederhana. Dalam lingkup keluarga, ibu menjadi pusat kasih sayang, pendidikan pertama bagi anak, sekaligus penyangga kehidupan rumah tangga. Tugas yang demikian besar menjadikan penghormatan terhadap ibu sebagai sesuatu yang wajar dan layak dimuliakan. Kehadiran Hari Ibu sesungguhnya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa perjuangan perempuan dalam kehidupan sehari-hari sering kali berlangsung tanpa sorotan.
Dalam ajaran Islam, perempuan ditempatkan pada posisi yang tinggi dan terhormat. Ibu bukan hanya dihargai karena perannya melahirkan dan membesarkan anak, tetapi juga karena kemampuannya menjaga nilai, moral, dan keberlangsungan generasi. Namun di tengah penghormatan tersebut, kenyataan sosial menunjukkan bahwa masih banyak perempuan berada dalam posisi yang termarginalkan, baik dalam pendidikan, ekonomi, maupun ruang sosial.
Marginalisasi terhadap perempuan kerap dikaitkan dengan budaya. Akan tetapi, persoalan tersebut sesungguhnya tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada kultur semata. Pendidikan menjadi faktor penting yang menentukan posisi perempuan di tengah masyarakat. Ketika perempuan memiliki pengetahuan, keberanian, dan kemampuan, ruang untuk berkembang akan terbuka lebih luas. Kemampuan dan kualitas diri pada akhirnya lebih menentukan daripada sekadar perbedaan jenis kelamin.
Meski demikian, batas-batas sosial antara laki-laki dan perempuan masih terasa dalam kehidupan sehari-hari. Perempuan sering ditempatkan pada posisi kedua. Namun keadaan itu perlahan berubah ketika pendidikan memberikan bekal pengetahuan dan kepercayaan diri. Dukungan lingkungan, terutama dari keluarga dan pasangan, juga memiliki peran besar dalam membuka ruang yang lebih adil bagi perempuan untuk berkembang.
Di sisi lain, perkembangan wacana emansipasi perempuan menghadirkan tantangan baru. Keinginan untuk sejajar dengan laki-laki sering dipahami sebagai tuntutan untuk menyamakan seluruh peran dan tanggung jawab. Padahal, kehidupan tidak selalu berjalan dengan ukuran yang sama antara laki-laki dan perempuan. Dalam perspektif keagamaan, perempuan telah memiliki kedudukan mulia sesuai kodratnya. Kesetaraan tidak selalu berarti menyeragamkan peran, melainkan memastikan bahwa perempuan memperoleh penghormatan, perlindungan, dan kesempatan yang layak.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga membawa dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, teknologi mempermudah kehidupan, mempercepat pekerjaan, dan membuka akses informasi yang luas. Namun di sisi lain, perkembangan media modern sering menjadikan perempuan sebagai objek eksploitasi. Tayangan televisi, media sosial, dan iklan kerap menampilkan perempuan semata-mata untuk kepentingan komersial. Ironisnya, keadaan itu sering dianggap sebagai simbol keberhasilan atau kebebasan, padahal justru dapat merugikan martabat perempuan itu sendiri.
Karena itu, perempuan membutuhkan pengetahuan dan pengendalian diri agar tidak mudah terseret arus budaya instan. Kemajuan zaman seharusnya tidak membuat perempuan kehilangan jati dirinya. Dalam kehidupan keluarga, misalnya, perubahan sosial modern perlahan mengurangi keterampilan rumah tangga yang dahulu menjadi bagian penting dari kehidupan ibu-ibu terdahulu. Kesibukan organisasi, pendidikan, dan pekerjaan sering membuat waktu bersama keluarga berkurang.
Walaupun demikian, keterlibatan perempuan dalam pendidikan dan aktivitas sosial bukanlah sesuatu yang salah. Tantangannya terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara peran publik dan tanggung jawab keluarga. Komunikasi dalam keluarga menjadi kunci utama. Anak-anak tetap membutuhkan perhatian, pengawasan, dan kedekatan emosional, sekalipun orang tua memiliki kesibukan yang padat.
Perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan besar dalam mendidik generasi muda. Televisi, internet, dan media sosial menghadirkan berbagai pengaruh yang sulit dibendung. Larangan semata tidak akan cukup menghadapi perubahan zaman. Yang lebih penting adalah pendampingan dan pengarahan. Anak-anak perlu dikenalkan pada kemampuan memilah informasi, memahami budaya luar, sekaligus mengenali identitas budayanya sendiri.
Budaya populer dari luar negeri sering diterima begitu saja tanpa pemahaman mendalam. Perayaan-perayaan tertentu, gaya berpakaian, hingga pola hidup modern dengan mudah ditiru generasi muda. Dalam situasi seperti itu, keluarga memiliki tanggung jawab memberikan penjelasan dan pemahaman kepada anak-anak. Bukan dengan cara memaksa, tetapi melalui dialog yang hangat dan penuh pengertian.
Pendampingan terhadap anak, terutama pada masa remaja, menjadi sangat penting. Kurangnya kedekatan emosional dapat membuat anak mencari figur lain di luar rumah. Karena itu, orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus hadir sebagai teman berbagi dan tempat anak merasa aman untuk bercerita. Mengenal lingkungan pergaulan, teman-teman, serta aktivitas anak merupakan bagian dari proses pendidikan dalam keluarga.
Pendidikan sendiri bukan hanya tanggung jawab keluarga. Sekolah, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran yang sama pentingnya. Kerja sama seluruh elemen diperlukan untuk menghadapi dampak negatif perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Pendidikan moral, budaya, dan agama harus berjalan beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan agar generasi muda tidak kehilangan arah.
Penguatan budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam membangun karakter anak. Modernisasi sering membuat masyarakat melupakan tradisi dan identitas budaya sendiri. Bahasa daerah, keterampilan tradisional, dan nilai-nilai kebersamaan perlahan tersisihkan oleh gaya hidup instan. Karena itu, pendidikan budaya perlu diberikan sejak dini, baik melalui keluarga maupun kurikulum pendidikan formal.
Dalam proses tersebut, perempuan memiliki posisi yang sangat strategis. Organisasi perempuan, lembaga pendidikan, dan komunitas sosial dapat menjadi ruang pengembangan diri sekaligus wadah memperkuat peran perempuan di tengah masyarakat. Perempuan tidak hanya berperan sebagai pendamping keluarga, tetapi juga sebagai agen perubahan sosial yang membawa nilai pendidikan, moral, dan kebudayaan.
Pada akhirnya, pendidikan bagi seorang ibu tidak pernah berhenti. Membaca, belajar, dan memahami perubahan zaman merupakan kebutuhan yang terus berlangsung sepanjang hidup. Pengetahuan bukan hanya penting untuk mencapai kesuksesan duniawi, tetapi juga menjadi jalan membangun keluarga yang kuat dan beradab. Dari tangan seorang ibu yang terus belajar, lahir generasi yang mengenal ilmu pengetahuan sekaligus memahami akar budaya dan nilai-nilai kehidupan.
Hasil wawancara dengan Dra. Hj. Mariyatul Kiptiyah, M. Ag, Ketua STAIN Pamekasan (2010)
