Tiga Pentigraf Lilik Soebari: Hasrat Emak Anik


Hasrat

Setiap kali mengunyah makanan ini aku seperti ingin menancapkan gigiku dalam-dalam pada batang tenggorokanmu seperti kulihat dalam film-film vampire. Dengan begitu hasrat membunuh dan menghisap darah membuncah ditengah ketidakberdayaanku.

Tapi aku tetap tak berdaya, dari waktu ke waktu dan hanya rasa marah semakin lama menggunung. Aku kalah dengan rasa lapar, kesombonganku runtuh pada titik nadir, dan aku tak berdaya dan tetap saja makanan ini kukunyah dan mengenyangkan hasrat laparku.

Ketika engkau meletakkan piring makanan dan sungging senyum darahku memanas dan perlahan mendidih naik ke ubun-ubun. Sama seperti ketika aku melihatmu bergumul penuh hasrat, panas demikian bergairah di depanku dengsn laki-laki lain hanya untuk membangkitkanku dari kekelaman malam yang demikian membeku.

Bondowoso, 28 April 2016



Emak

Masih benar-benar pagi dan belum ada semburat cahaya. Aku masih memeluk lutut, rasa hangat perlahan menjalar ke sekujur tubuh. Dari balik sarung kuperhatikan Emak memupuri wajahnya dan mengoleskan lipstik. Sambil mematut wajah di cermin beliau tersenyum-senyum. Ada kepuasan tergurat dan Emak tidak tahu kalau tingkahnya kuperhatikan. Aneh, perasaan itu muncul dalam benakku karena akhir-akhir ini Emak sedikit berubah. Sebelum berangkat mencari kayu bakar tidak pernah memakai pupur, membiarkan saja kulit wajah yang mulai keriput. Tidsk terlalu hitam kulit Emak karena sangat rajin memakai lulur beras dicampur kunir dan akar teki. Karena kerjanya lumayan berat otot-ototnya menonjol disekitar lengan, bahu dan leher akibat mengangkat beban kayu yang dirangkai jadi satu yang panjangnys terkadang sampai 4 meter.

Biasanya satu minggu sekali Emak berjalan kaki menuju hutan desa sebelah yang jaraknya sekitar 5 km. Pagi buta berangkat dan setelah lohor baru kembali dan kayu bakar itu nantinya dipergunakan untuk memasak air nira menjadi gula. Seingatku satu bulan terakhir ini Emak semakin rajin mencari kayu bakar, tidak lagi seminggu sekali tapi dua kali. Benar-benar luar biasa dan aku lihat bukan wajah capek tapi malah semakin seger, benar-benar aneh.

Hingga suatu siang aku memergoki Emak sedang cengsr-cengir sendiri di cermin. Begitu melihatku Emak memasang muka masam dan secepat kilat menutupi bagian lehernya dan menyembunyikan sesuatu dibalik bantal. Aku pura-pura tudak melihat dan keluar dari kamar. Dan ketika Emak tertidur sangat pulas  aku memperhatikan dengan seksama warna merah kehitaman dileher Emak, banyak sekali bercampur dengan kerokan. Aku semakin penasaran dan mengambil bungkusan dibawah bantal. Ketika kubuka, duh dari mana Emak dapat duit sebanyak ini? Duh Tuhan, Emakku....Emakku…, aku terkulai tak berdaya, jiwaku terbakar.

Sumenep, 29 April 2016



Anik

Mata kejora, senang sekali menatap matanya yang berkelip seperti bintang pagi, kepyur-kepyur, gemerlap. Mata itu tetap berkelip dan bercahaya pada usia setengah abad. Anik, mata kanak-kanaknya yang dulu sering kunikmati menelusuri pematang sawah, tegalan dan pohon perdu sambil menenteng kaleng bekas mencari bekicot di sela-sela rimbun nanas. Matanya terbeliak membesar ketakutan ketika ada kalajengking mempersiapkan diri seperti rudal yang siap diluncurkan, ekornya keatas siap menyengat. Beliak mata membesar itu demikian indah, aku demikian menikmatinya seperti kemilau gemerlap bintang pagi di subuh yang sahdu. Atau juga ketika Anik menggigil ketakutan karena dipaksa melompat dari tebing ke lubuk sungai, kerjab kemilau mata itu sangat menghipnotis. Kalau menangis butiran air matanya turut berpendar.

Anik terbahak kemudian memelukku sangat erat. Posturnya tetap kecil, mungil dan imut seperti tiga puluh dua tahun silam terakhir kami bertemu. Tentu saja menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja bersama dan bersekolah di sekolah yang sama ikaran batin kami sangat kuat. "Kau makin cantik, " puji Anik menguraikan pelukan dan menatapku dalam-dalam. "Kau juga, " pujiku. Inilah pertemuan pertama kami setelah berpisah karena selepas Sekolah Pendidikan Guru (SPG) aku hijrah ke Kalimantan Tengah. Ada kabut kesedihan yang mengambang di kerjab bola mata Anik, dan ketika kugenggam tangannya sedu-sedannya tumpah seperti irama gerimis. ".Mengapa sedih? " Anik menatapku dengan mata berkaca-kaca, "Aku benar-benar kehilanganmu, May. Seharusnya kau tidak berkorban sebesar ini untuk kebahagiaanku. Kau tahu? ," airmatanya gemerlap dan menetes, "bukan hanya aku, Pram juga sama gilanya kehilanganmu. Hampir setiap hari ia menulis surat untukmu dan ia memilih hari baik Jum'at memasukkan ke botol dan melarungkan ke laut dengan harapan suatu saat ketika kau berada di pantai menemukannya, dimanapun kau berada."

Aku menahan perih dan sakit yang menyodok ulu hati. "Bahkan setelah dua putri ksmi lahir mendung kesedihan itu tak pernah hilang meski ia berusaha menyembunyikan. Ya, ketika Pram jatuh sakit aku tersadar lever yang ia derita kemudian menjadi sirosis bukan karena penyakit fisik semata, " Tangisku pecah, "sebelum menghembuskan nafas terakhir namamu May, namamu yang ia sebut. " Keheningan demikian mencekam, kesedihan dalam.kerjab bola mata Anik menerbangkan anganku pada masa dimana rasa indah itu tumbuh, rasa cinta yang demikian mendalam, membahagiakan dan aromanya memabukkan. Cinta yang bersemi dan disemaikan hanya pada satu hati. Dua hati mencintai satu hati, dan aku memutuskan mengikuti jejak elang, menjauh dan pergi menjejakkan kaki di belantara yang masih sangat luas. Di belantara yang sunyi dan luas aku masih bisa merasakan kebahagiaan dan menatap kerjab kemilau bintang pagi, kerjab bola mata Anik.

Bondowoso, 20 April 2016

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

Mimpi-Mimpi Di Siang Bolong

Ibu, Wanita yang Dicari