Pagi yang Riang

 


Cerpen: Dien soebari

Siang ini udara demikian dingin menggigit. Kurapatkan jaket saat tiba di perempatan, dan lampu merah menyala. Dari jarak sekitar 15 meter tampak antrian  dari arah utara dan selatan jalan. Berbagai kendaraan berebut dan memepet, barisnya ngak beraturan.

Lampu hijau menyala, dan kusejajarkan sepeda pada antrian yang mayoritas mereka berpakaian seragam.

Pengantri di belakangku rupanya ngak sabar, itu terdengar dari klakson yang terus dipencet. Hati yang dongkol semakin kesal saat menatap antrian di SPBU yang panjang mengular, bagai ular tangga meliuk tak beraturan. Walaupun antri beberapa menit tidak akan membuatku telat ngantor, tapi melihat antrian membuatku kesal.

Seolah bertolak belakang dengan hati, tanganku tanpa sadar mengarahkan stang ke antrian, paling belakang. Ada sekitar 20 sepeda motor jalur kiri kanan, full penuh. Melirik sekilas di sebelah seolah bertolak belakang dengan Pertamax yang jual mahal.

Sebenarnya lebih cepat beli Pertamax karena kosong pembeli, tapi mau bagaimana lagi sepeda kumbangku nggak mau kuberi minum Pertamax. Alasannya mahal. Hiii...

Sembari cuci mata ke sekitar, melihat kanan kiri, bukan melihat orang tapi pemandangan di sekitar SPBU yang mempesona mata. Pantas saja SPBU ini diminati para  pembeli karena pemandangan yang menyejukkan mata. Tumbuhan palm berjejer rapi, dan bunga-bunga bougenfil bermekaran plus petugasnya yang ramah.

Di samping itu  SPBU ini saja yang paling dekat dengan rumah, juga tidak terlalu besar, jadi antrian yang sedikit menjadi pilihan termudah.

Di sebelah kiri ada bangunan terbuka tempat mengisi oli, berjejer bangunan berkaca yang berisi gas elpiji. Ada fasilitas toilet, musolla, dan ATM bersama.

Seraya menggeser maju sedikit demi sedikit, akhirnya antrianku tiba juga. Ada 2 petugas yang melayani, bagian mengisi bensin dan bagian terma uang. Terbayar sudah rasa kesal yang sempat singgah di hati saat giliran tiba.

"Barapa Bu?"

"20 ribu Mas," jawabku, lalu menyodorkan uang pada petugas yang usianya ku taksir dua puluh tahun..

Pagi ini tangki sepeda tidak kuisi penuh sih, tapi cukup untuk kebutuhan 2 hari. Kudorong sepeda, memberi kesempatan sepeda di belakangku mendekati moncong bensin.

Baru teringat sepeda kumbangku kemarin kehujanan, dan harus pakai manual untuk menstater. Bagaimana ini?

Dengan agak malu aku mendekati mas kasir.

"Mas bisa minta tolong?"

"Ya Bu?"

"Tolong staterkan sepeda saya."

"O, bisa. Saya kira mau menstater hati Ibu."

Waduh, mau tak mau gigi putihku menyembul dari balik bibirku, diikuti masnya. Rupanya dia jago juga, jago melelehkan hati.

Imbas dari ucapan mas brondong tadi bikin hati happy. Apalagi di sepanjang jalsn cukup ramai menuju kantor. Dan di  sepanjang jalan dipayungi rimbunnya dedauanan saat memasuki kawasan hutan lindung setelah sebelumnya merasakan jalan padat merayap.

Kupacu sepeda kumbangku sedikit kencang, mengimbangi kencangnya sepeda motor dan mobil box yang membawa galon air. Rutinitas ini biasa kujalani setiap hari, 5 kali seminggu, dan alhamdulilah tak bosan hingga saat ini.

Ketika akan mendekati akhir hutan lindung ada seseorang menuntun sepeda Mio sendirian. Kupikir kehabisan bensin, aku melewatinya dengan ide mau cari bensin untuknya.

Tapi setelah beberapa meter melewatinya, kok kasihan, apalagi beberapa kendaraan tak ada inisiatif untuk berhenti. Kuputuskan berhenti karena merasa tak tega. Walaupun tidak kenal, setidaknya orang itu adalah teman seperjalanan searah. Begitu turun dari sepeda lantas mendekati dan menyapa. Orang itu mengherhentin langkah.

"Mbak kenapa sepedanya, habis bensinnya?"

"Nggak Bu, ini sepeda saya ogel-ogel, kempos Bu," jawabnya seraya senyum manis, mungkin karena ada yang menyapa.

"O, iya Mbak kempos yang belakang. Jalan deh saya ikutin dari belakang." Kataku sambil melihat ban belakang yang peleng ban sudah rata dengan aspal.

"Ya Bu, makasih," ujarnya lantas melanjutkan perjalanan.

"Kerja dimana":;

Merasa kasihan juga, ban yang kempos membuat ban belakang geal-geol jalannya selaksa pantat bebek. Terlihat mbaknya mau jatuh karena tak imbang jalannya. Perlahan kuikuti dari belakang dengan harapan kalau ada apa-apa aku bisa membantunya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer tampaklah bengkel yang diidamkan muncul. Alhamdulillah. Mbaknya yang kuketahui bidan di Puskesmas tertawa senang ketika aku pamit meneruskan perjalanan.

"Ada uang untuk nembel?" Tanyaku basa-basi.

"Ada, makasih banyak ya Bu,"jawabnya/

Senyum Pepsodent yang merekah dibibirnya membuat plong dadaku, setelahnya Ku stater sepeda dan melajukannya dengan hati riang menuju kantor.

Bondowoso, 9.09.2022

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Popular Items

Pentigraf Bulir Kesetiaan

Usai