Pentigraf Lilik Rosida Irmawati
Badan Tantri terasa remuk pasca selamatan rumah baru yang dikemas dalam acara pengajian dan dihadiri keluarga besar suami serta tetangga blok perumahan. Hati Tantri sangat gembira karena bisa membeli rumah dari hasil tabungan selama 20 tahun. Meski kecil, rumah berlantai dua desainnya apik, dua kamar di lantai bawah, dapur, ruang makan dan di bawah tangga ada gudang kecil. Sedangkan di lantai atas ada kamar, mushalla, kamar mandi serta ruang cuci baju plus jemuran. Nantinya tinggal merenovasi tembok-tembok yang mengelupas karena rumah yang dibelinya sudah lama tidak dihuni.
Selama dua malam, Tantri akan tidur sendirian karena Bram kebagian tugas piket dan kedua anaknya belum mau pindah dari rumah sang nenek. Tantri memilih tidur di kamar depan, saat melihat tanaman dari jendela bunga-bunga dalam pot bergoyang menari-nari. Tantri terkesiap lalu menutup tirai jendela lalu berusaha memejamkan mata. Namun saat kantuk mulai menyergap, tiba-tiba terdengar seperti ada yang menghidupkan komputer dibarengi gemerisik mesin printer. Tantri acuh karena merasa hanya berhalusinasi saja. Meski merasa terganggu, akhirnya Tantri terlelap.
baca juga: Ibu, Pendidikan, dan Tantangan Zaman
Di malam berikutnya, Tantri merasakan hal yang sama. Saat akan tertidur ia mendengar langkah kaki dan derit kursi. Tak lama suara ceklek dan gemerisik printer berbunyi. Entah mengapa tiba- tiba tubuhnya merinding takkala terdengar ketukan lalu senyap, ketukan lagi dan senyap lagi. Ketukannya, serasa di pintu, dan lamat-lamat ada rintih suara meminta tolong. Meski dihantui rasa takut yang memuncak, Tantri bangun dan membuka pintu. Senyap. Kursi tiba tiba bergeser dan ada langkah kaki menuju pintu di bawah tangga. Diselimuti rasa ingin tahu. ia pun melangkah Saat pintu terbuka, Tantri berteriak- teriak seperti orang kesurupan lalu berlari menerjang pintu, menggedor pagar kuat-kuat. Saat tetangga terbangun dan berdatangan, Tantri berteriak histeris, "Ada jrangkrong …, ada jrangkong."
Sumenep, 11092024
