Lilik Soebari
Bulir Kesetiaan
Penuh perasaan sedih Carto melihat Warda yang bergeming, duduk dengan posisi kedua kaki diangkat ke kursi dan kedua lutut dijadikan bantalan dagu. Mata menatap lurus, sesekali berkedip dan kosong. Seminggu lebih inilah yang dilakukan sang istri, Warda. Celoteh dan tawa ketiga anaknya tak mampu menggerakkan simpul syaraf dibibirnya untuk sekedar tersenyum. Carto berharap kondisi Warda yang marah dan sedih tidak akan berlarut lama, setiap kali perasaannya tak nyaman Warda mengekspresikan dengan cara diam seribu bahasa.
Semuanya berawal ketika ibu Minuk berkunjung selama seminggu. Kedatangan Minuk, ibu angkat Carto yang awalnya membawa suasana bahagia, dan di kepulangannya membawa kesedihan mendalam. Secara sengaja ibu Minuk membuka kisah lama suaminya, Carto. Rupanya ibu Minuk sangat menyukai gadis itu dan telah menjodohkannya dengan Carto semasa kuliah. Namun jalan takdir tak menuliskannya, meski Allah telah menganugerahkan tiga cucu jelita ibu Minuk masih tetap berharap Larasati menjadi bagian dari keluarga besar Atmojo. Janji pengharapan. Apalagi poligami bukan hal yang tabu, ibu Minuk berkaca pada diri sendiri menjalin kebersamaan bersama istri tertua penuh kebahagiaan.
Pagi itu dada Carto terasa lapang, Warda mulai mengajak ngobrol dan tersenyum meski dengan sorot mata duka. Pandangannya tertunduk tanpa mau menatap mata Carto. Sembari menyuapi ketiga anaknya Warda mulai menyampaikan pendapat tentang harapan ibu Minuk. Menurut Warda keinginan tersebut sah apalagi telah berjanji dan membuat Larasati menunggu sampai detik ini. Carto hanya tersenyum sembari menatap bola mata yang berpendar birisi bulir-bulir bening. Dan tiba-tiba dada Carto terasa sesak karena bulir-bulir bening itu mengingatkannya pada sosok alharhum ibunya yang selalu menangis diam-diam di kesunyian malam. Bulir bening dari sorot mata duka yang jatuh seperti rinai gerimis di semua musim. Sang ibu yang semasa hidupnya tidak pernah ikhlas berbagi dan harus tunduk keputusan suaminya dipoligami. Warda terkejut ketika melihat Carto tersedu seraya mengatupkan kedua tangan, menatap manik mata, "Aku berjanji atas nama ibuku tidak akan menduakanmu dengan siapapun. Apakah ini tidak cukup?" Warda memeluk kemudian menciumi suaminya dan menatap mata yang berbulir bening. Ada kesungguhan yang terpancar. Astri mengangguk penuh haru.
Sumenep, 29 Mei 2019
