![]() |
| Foto jadul emak-emak antre kebutuhan pokok. (Nederlands Fotomuseum) |
Tulisan ini membahas perjalanan panjang perempuan dalam sejarah peradaban manusia. Dari masa ketika perempuan diperlakukan sebagai makhluk kelas dua hingga hadirnya Islam yang mengangkat martabat perempuan sebagai manusia mulia yang memiliki hak, kehormatan, dan kedudukan setara di hadapan Tuhan.
Oleh : El Iemawati
Sejak awal sejarah manusia, perempuan selalu menjadi bagian penting dalam perjalanan peradaban. Namun ironisnya, dalam banyak fase sejarah, perempuan justru mengalami perlakuan yang tidak adil. Mereka diposisikan sebagai makhluk lemah, tidak memiliki hak menentukan hidupnya sendiri, bahkan sering dianggap sekadar pelengkap kehidupan laki-laki. Perdebatan tentang perempuan, hak-haknya, serta kedudukannya di tengah masyarakat pun tidak pernah benar-benar selesai hingga hari ini.
Pada masa Yunani dan Romawi kuno, perempuan dipandang rendah dan tidak memiliki kebebasan sebagaimana laki-laki. Mereka dianggap tidak layak terlibat dalam urusan publik dan hanya ditempatkan dalam ruang domestik. Dalam sejumlah tradisi kuno, perempuan bahkan diperlakukan seperti barang dagangan yang dapat diwariskan atau diperjualbelikan. Keberadaan mereka lebih dilihat dari manfaat ekonomi dan biologis daripada sebagai manusia yang memiliki kehormatan.
Di Persia kuno, posisi perempuan juga sangat lemah. Sejarah mencatat adanya praktik-praktik yang merendahkan perempuan, termasuk perkawinan yang melanggar batas kemanusiaan. Di sebagian tradisi Yahudi klasik, perempuan dianggap sebagai penyebab terusirnya manusia dari surga karena dianggap menggoda Nabi Adam. Sementara itu, dalam sebagian tradisi Nasrani abad pertengahan, perempuan sering digambarkan sebagai sumber dosa dan malapetaka.
Puncak keterpurukan perempuan tampak jelas pada masa jahiliyah di Jazirah Arab sebelum datangnya Islam. Anak perempuan dianggap aib keluarga hingga sebagian dikubur hidup-hidup. Perempuan tidak memiliki hak waris, tidak memiliki kebebasan memilih pasangan, dan dapat diwariskan layaknya harta benda. Mereka menjadi objek kekuasaan laki-laki tanpa perlindungan hukum dan moral.
Di tengah kondisi itulah Islam hadir membawa perubahan besar dalam sejarah kemanusiaan. Islam menghapus berbagai praktik zalim terhadap perempuan dan mengangkat derajat mereka sebagai manusia yang mulia. Perempuan diberikan hak untuk memiliki harta, memperoleh warisan, menuntut ilmu, menentukan pasangan hidup, dan mendapatkan perlakuan yang adil dalam rumah tangga maupun masyarakat.
Islam juga memperkenalkan konsep kesetaraan spiritual. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi oleh ketakwaannya. Perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki tanggung jawab moral serta peluang yang sama untuk meraih kemuliaan di sisi Allah SWT.
Perubahan besar tersebut menjadikan perempuan memiliki posisi penting dalam peradaban Islam. Banyak perempuan Muslim tampil sebagai ilmuwan, guru, ahli hadis, pedagang, dan pejuang sosial. Aisyah binti Abu Bakar misalnya, dikenal sebagai salah satu periwayat hadis terbesar dalam sejarah Islam. Pemikirannya menjadi rujukan penting dalam ilmu agama hingga hari ini.
Namun sejarah tidak selalu bergerak maju. Setelah runtuhnya kejayaan Islam, penghargaan terhadap perempuan kembali mengalami kemunduran di berbagai tempat. Budaya patriarki kembali menguat dan perempuan sering dibatasi hanya pada wilayah domestik. Pendidikan bagi perempuan dianggap tidak penting, dan ruang publik kembali didominasi laki-laki.
Memasuki era modern, kesadaran tentang hak-hak perempuan mulai bangkit kembali. Perempuan mulai memperjuangkan hak pendidikan, hak politik, serta hak untuk terlibat dalam pembangunan sosial. Gerakan kesetaraan gender lahir sebagai respons terhadap ketidakadilan yang selama berabad-abad dialami perempuan.
Meski demikian, perjuangan perempuan sejatinya bukan sekadar menuntut persamaan mutlak dengan laki-laki. Yang lebih penting adalah menghadirkan keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kesempatan yang sama untuk berkembang. Perempuan tidak lagi dipandang sebagai pelengkap kehidupan, tetapi sebagai subjek penting yang ikut menentukan arah peradaban.
Perjalanan sejarah perempuan adalah kisah panjang tentang perjuangan mempertahankan martabat kemanusiaan. Dari masa penindasan menuju penghormatan, perempuan telah membuktikan bahwa mereka memiliki peran besar dalam membangun ilmu pengetahuan, kebudayaan, moralitas, dan masa depan sebuah bangsa.
